Listrik Padam Bergilir Bukan Salah PLN
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)
Ya, Anda tidak salah membaca judul di atas. Pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa—termasuk wilayah Malang Raya—selama beberapa pekan terakhir ini sama sekali bukan salah PT PLN (Persero) sepenuhnya.
Sangat naif dan lebay jika kita sebagai masyarakat hanya bisa menuding hidung korporasi negara setiap kali aliran setrum di rumah kita terputus.
Mereka sudah bekerja keras membagi beban, melakukan manajemen jaringan, bahkan jajaran direksi hingga unit pelaksana di daerah sudah sangat sopan menyampaikan permohonan maaf serta nyuwun ngapunten kepada kita semua.
Lalu, jika bukan salah PLN yang memegang kendali atas sakelar setrum nasional, salah siapa lagi?
Jawabannya menyakitkam: Ini murni salah kita sendiri sebagai konsumen yang serakah, manja, dan menderita ilusi kemajuan modernitas tanpa batas!
1. Ilusi Kota Modern yang Tidak Pernah Tidur Dari Listrik
Masyarakat modern hari ini mendambakan kota yang gemerlap. Kita ingin lampu jalanan menyala megah, papan reklame digital (videotron) berkedip-kedip 24 jam, ruko-ruko, pabrik, hingga industri digital rumahan beroperasi nonstop tanpa jeda sedikit pun. Kita menuntut segalanya serba instan, serba cepat, dan serba digital.
Namun, di tengah semua syahwat modernitas itu, kita melupakan satu hukum alam yang paling mendasar: Listrik tidak jatuh dari langit, dan ia tidak diciptakan oleh sihir.
Ketika pemakaian listrik kita sudah di luar batas akal sehat, risikonya sudah pasti seperti yang kita rasakan sekarang padam bergilir.
Coba perhatikan lingkungan sekitar Anda. Berapa banyak lampu rumah yang dibiarkan menyala di siang bolong? Berapa banyak perangkat elektronik yang dibiarkan dalam posisi standby mencolok ke sakelar tanpa pernah dicabut?
Kebiasaan-kebiasaan kecil yang egois inilah yang secara kolektif menjadi kontribusi nyata masyarakat dalam mempercepat matinya generator listrik negara. Kita yang menciptakan beban, tapi kita yang mengamuk saat sistemnya kelelahan.
2. Perlombaan Menambah Beban Listrik di Tengah Sekaratnya Energi Fosil
Di saat dunia internasional gencar mengampanyekan gerakan hemat energi dan transisi hijau, produsen teknologi dan konsumen di Indonesia justru bergerak ke arah sebaliknya. Kita sedang berlomba-lomba menambah beban listrik di ruang domestik maupun komersial.
Lihat saja tren industri hari ini, semua hal dipaksa bermigrasi ke tenaga listrik demi label masa depan. Mulai dari mobil listrik, motor listrik, hingga perangkat rumah tangga pintar (smart home) yang dipaksa menyala 24 jam nonstop hanya demi pemenuhan gaya hidup digital.
Memang, sebagai konsumen yang taat membayar tagihan atau rutin mengisi token, Anda merasa memiliki hak mutlak untuk menggunakan apa yang telah Anda beli. Tetapi ingat, pasokan energi fosil seperti batu bara yang membakar turbin-turbin pembangkit itu tidak unlimited! Ada batas fisik dari perut bumi yang dikeruk setiap harinya.
Saat ini realitanya terbukti di lapangan. Ketika pasokan batu bara kian menipis dan target ratusan juta ton sulit terpenuhi akibat dinamika global dan keterbatasan alam, pembangkit kita megap-megap listrik tidak menyala. Kita menuntut pasokan setrum mengalir seperti air air terjun, padahal bahan bakarnya sedang sekarat.
3. Berapa Banyak Lagi Pulau Kalimantan Harus Dikeruk?
Mari kita menggunakan kacamata sosiologi ekologis yang lebih luas. Jika seluruh pabrik, gedung pencakar langit, ruko, hingga jutaan kreator digital di Pulau Jawa terus-menerus menggantungkan hidupnya pada pasokan energi batu bara secara nonstop, berapa banyak lagi daya yang harus kita bakar?
Apakah kita harus menunggu sampai Pulau Kalimantan habis dikeruk, runtuh, dan berubah menjadi lautan lubang tambang beracun hanya demi menuruti ego kemanjaan listrik di Pulau Jawa? Ini adalah model pembangunan ekonomi dan gaya hidup yang sama sekali tidak berkelanjutan (unsustainable).
Jika kita terus menutup mata dan menolak menghemat sumber daya alam, sementara negara ini belum memiliki alternatif tenaga daya baru (EBT) yang siap menopang beban raksasa secara instan, maka bersiaplah dengan konsekuensi logisnya.
Dalam waktu dekat, pemadaman listrik bergilir di wilayah Jawa-Bali tidak lagi menjadi gangguan teknis sementara, melainkan akan bergeser menjadi bagian dari gaya hidup normal sehari-hari.
Kesimpulan: Pemadaman Listrik Bergilir adalah Rem Darurat Paling Waras
Oleh karena itu, mari kita ubah sudut pandang kita. Pemadaman bergilir ini bukanlah sebuah kegagalan birokrasi semata, melainkan sebuah mekanisme rem darurat yang terpaksa diambil oleh alam dan sistem akibat keserakahan konsumsi manusia modern yang tidak tahu diri.
Ini adalah alternatif solusi paling logis ketika pasokan berkurang akibat dikangkangi oleh gaya hidup masyarakat yang boros energi.
Jadi, berhentilah menghujat PLN di media sosial. Matikan lampu kamar Anda yang masih menyala di siang hari, cabut pengisi daya ponsel Anda yang sudah penuh, dan mulailah sadar bahwa energi fosil ini ada batasnya. Salahkan diri kita sendiri yang ingin menikmati kemewahan era modern, tetapi masih memelihara mentalitas boros zaman purba.

Komentar
Posting Komentar