​Siapa uc.you Endang Yustika Pembenci Warga Threads?

Tangkapan layar penjelasan singkat apa yang sebenarnya terjadi oleh netizen. By Sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

​Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

​Jagat media sosial Indonesia kembali dihebohkan oleh perselisihan antar-platform yang makin panas. Nama Endang Yustika (pemilik akun Instagram dan Threads @uc.you) mendadak jadi perbincangan hangat usai melontarkan narasi yang dinilai menabrak nurani dan menyinggung para pengguna Threads.

​Pernyataan doi yang paling memicu gelombang emosi netizen adalah prinsipnya yang secara terang-terangan mengaku tidak sudi berteman dan siap memutus hubungan (cut off) dengan siapa pun yang kedapatan aktif menggunakan aplikasi Threads.

​Lantas, siapa sebenarnya sosok Endang Yustika ini? Dan kenapa prinsip cut off pertemanan cuma gara-gara beda aplikasi sosmed ini bisa bikin warga jagat maya ngamuk massal? Mari kita bedah drama ini sampai ke akar-akarnya!

​Profil uc.you: Siapa Sebenarnya Endang Yustika?

​Bagi yang belum kenal, Endang Yustika alias uc.you bukanlah orang baru di dunia media sosial. Perempuan asal Lampung ini merupakan sosok pengusaha muda dan content creator yang memiliki daya jangkau cukup luas di platform digital, data dirinya tidak sulit didapat karena memang dari aktifnya didunia digital.

  • Nama Lengkap: Endang Yustika
  • Pendidikan: Lulusan Sarjana (Bachelor's degree) jurusan Marketing Communication dari London School of Public Relations (LSPR) Jakarta.
  • Profesi: Pengusaha, Digital Content Creator, dan Edukator Bisnis / Self-Development.
  • Gurita Bisnis: Pemilik toko pakaian Biu.co Store, platform private coaching Yousee Academy, hingga usaha retail dan kuliner seperti Raja Branded Store dan Voda Kitchen X Kopi Nu Sae.

​Dengan latar belakang pendidikan komunikasi publik dari kampus ternama serta portofolio bisnis yang menjual citra self-development, keputusan Endang melontarkan narasi alergi warga Threads jelas membuat publik mengelus dada.

Terlepas dari pengalaman pribadinya yang mungkin mengalami toxic dari pengguna tidak serta merta dapat melontarkan narasi publik yang mengkerdilkan pengguna lain.

​Pernyataan Cut Off: Saat Pilihan Sosmed Jadi Penentu Takdir Pertemanan

​Puncak dari kegeraman netizen bermula dari unggahan video singkat di akunnya. Dalam video tersebut, Endang secara gamblang menyatakan ketidaksukaannya pada warga Threads yang ia cap toxic, penuh red flag, dan hobi mencari masalah.

​Tak berhenti di situ, kalimat pamungkasnya bikin netizen makin geleng-geleng kepala: ia menegaskan bakal langsung me-(cut off) teman di dunia nyata jika ketahuan bermain Threads.

​Sontak, logika ini langsung disambar satir oleh netizen:

Segitu benci dan alerginya ya sama Threads? Berarti nilai pertemanan di dunia nyata kalah murah dibanding algoritma aplikasi?


​Bagi publik, mengukur kadar kebaikan atau kualitas seorang teman hanya berdasarkan aplikasi apa yang terpasang di HP-nya adalah puncak dari superioritas palsu di dunia maya.

​Ruang Siber Bukan LinkedIn: Konflik Antara Jaim dan Ekspresi Diri

​Jika dibedah dari kacamata sosiologi siber (cyber-sociology), kekeliruan mendasar dari narasi yang dilontarkan uc.you (Endang Yustika) adalah menyamaratakan ekspektasi perilaku di seluruh platform media sosial.

​Masyarakat siber tidak hidup di dalam satu ruang yang homogen. Setiap platform memiliki fungsi sosiologisnya masing-masing:

  • LinkedIn hadir sebagai panggung profesionalisme yang kaku, jaim, dan penuh tata krama karir.
  • Instagram menjadi galeri estetika visual dan kurasi personal branding.
  • Threads, Facebook dan X (Twitter) berkembang menjadi ruang katarsis—tempat masyarakat siber mengekspresikan pemikiran, kejujuran, satire, dan emosi yang sering kali tidak bisa mereka luapkan di kehidupan nyata maupun di lingkungan kerja yang kaku.

​Ketika seorang figur publik menuntut warga Threads untuk bersikap serba manis, sopan dan jaim seperti di platform lain, bentrokan budaya (cultural clash) tak terhindarkan. Menuduh pengguna Threads sebagai kelompok toxic hanya karena mereka aktif berdiskusi dan blak-blakan adalah bentuk ketidakpahaman atas fungsi sosiologis platform tersebut.

​Medsos adalah tempat mengekspresikan diri. Mengukur kelayakan pertemanan di dunia nyata hanya berdasarkan tempat seseorang memilih untuk menjadi dirinya sendiri di sosmed pada akhirnya justru dinilai dangkal oleh publik.

​Dari Sok Suci Hingga Dikulitin Netizen: Senjata Makan Tuan

​Hukum alam di media sosial itu sederhana: siapa yang menyenggol ruang publik dengan narasi yang merendahkan, dia harus siap digulung balik.

​Niat hati ingin terlihat eksklusif dan bebas dari orang toxic, Endang justru memanen serangan balik yang jauh lebih masif:

  1. Gaya Defensif yang Makin Bikin Netizen Gemas: Pasca diserang, bukannya mereda, doi malah mengunggah kutipan bahwa yang ngomongin lebih buruk dari yang diomongin. Ungkapan ini malah dianggap bentuk anti-kritik dan narsisme akut.
  2. Jejak Digital Dikulit: Warga Threads yang terkenal dengan kejeliannya langsung bergerak cepat. Profil LinkedIn, latar belakang pendidikan LSPR, hingga riwayat bisnisnya langsung disebarkan ke mana-mana sebagai bentuk sindiran balik.

​Kesimpulan: Jangan Sampai Aplikasi Merusak Logika Akal Sehat

​Kejadian yang menimpa Endang Yustika @uc.you menjadi pelajaran menohok bagi para pembuat konten dan pengusaha di era digital:

  • Pertemanan Lebih Berharga dari Aplikasi: Memutus silaturahmi (cut off) hanya karena perbedaan platform sosmed adalah tindakan yang kekanak-kanakan di mata publik.
  • Hormati Dinamika Masyarakat Siber: Pahami bahwa setiap platform punya ruang ekspresi yang berbeda. Jangan menuntut semua orang untuk jaim di ruang yang memang diciptakan untuk kejujuran opini.
  • Bijak Sebelum Mengisi Konten: Etika berkomunikasi dan kerendahan hati adalah kunci utama agar reputasi bisnis yang dibangun bertahun-tahun tidak terganggu hanya gara-gara konten blunder.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

๐Ÿ“œ LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET

Komentar