Jualan di Mobil Bukan Tren Bisnis, Tapi Bukti Ekonomi Sedang Sakit!

Krisis ekonomi juga berdampak pada kelas menengah sampai nekat jualan di dalam mobil pribadinya. By Sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

Founder KunciPro Research | Peneliti Sosio-Legal terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

​Jangan pernah tertipu oleh pemandangan bagasi mobil MPV, city car, hingga SUV yang berjajar rapi dengan pintu terbuka di sepanjang bahu jalan protokol dan taman kota pada Pagi, siang dan malam hari. Di balik spanduk gantung bertuliskan Kopi Seduh 5 Ribuan atau Angkringan Bagasi, kita sedang tidak menyaksikan sebuah lompatan kreatif dalam dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kenapa banyak yang berjualan di mobil? Bukan karena tren bisnis tapi ada sebab yang bisa di analisa melalui soaiologi ekonomi.

​Ketika kendaraan pribadi yang sejatinya dibeli untuk simbol kemewahan, kenyamanan keluarga, dan penanda status sosial dipaksa berganti fungsi menjadi gerobak berjalan, ada sinyal bahaya yang menyala terang di papan indikator bernegara kita: 

Ekonomi sedang sakit sakaratul maut, dan kelas menengah sedang merobohkan gengsinya setingkat dengan tanah demi sekadar menyambung hidup.

​Mitos Inovasi dan Realitas Keterdesakan

​Media arus utama kerap membingkai fenomena jualan di mobil sebagai bentuk kreativitas bisnis anak muda atau inovasi hemat tempat. Narasi ini tidak hanya dangkal, tetapi juga menyesatkan.

​Secara rasional, tidak ada satu pun orang yang menguras tabungan puluhan juta atau menandatangani kontrak kredit kendaraan bermotor selama lima tahun dengan niat awal untuk menjadikannya toko pakaian obral atau lapak es teh.

Jika seseorang sejak awal memang murni berniat menggelar usaha dagang keliling, instrumen niaga yang dibeli secara sadar tentu adalah mobil pikap, blind van, Tossa, atau motor gerobak. Jenis kendaraan niaga ini jauh lebih efisien, memiliki daya angkut luas, dan biaya operasionalnya proporsional.

​Ketika mobil penumpang biasa (passenger car) dieksploitasi menjadi tempat berjualan, itu bukanlah sebuah rencana bisnis (business plan) yang matang. Itu adalah tindakan darurat (emergency survival strategy).

Mobil pribadi tersebut adalah satu-satunya aset tersisa yang bisa dimanfaatkan secara cepat untuk menghasilkan uang tunai harian (daily cashflow), setelah lapangan kerja formal makin menyempit dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) menghantam tanpa ampun.

​Disparitas Aset dan Runtuhnya Benteng Gengsi

​Salah satu ironi paling telanjang dari fenomena jualan di mobil adalah jurang pemisah yang lebar antara nilai aset kendaraan dengan nilai barang yang dijajakan.

  • Aset yang Digunakan: Mobil bernilai ratusan juta rupiah yang membawa beban depresiasi, pajak tahunan, serta cicilan bulanan yang terus berjalan.
  • Barang yang Dijual: Kopi saset lima ribuan, nasi kucing tiga ribuan, atau obral pakaian sisa ekspor.

​Margin keuntungan dari jualan bernilai murah meriah tersebut jelas tidak akan pernah masuk akal jika dihitung untuk mengembalikan nilai investasi (Return on Investment) sebuah mobil. Namun, para pelaku usaha ini tidak lagi berpikir tentang profitabilitas jangka panjang. Fokus utama mereka telah bergeser pada tingkat paling dasar dalam hirarki kebutuhan: bertahan hidup besok pagi.

​Dalam sosiologi ekonomi, kelas menengah dikenal memiliki benteng pertahanan paling kokoh yang bernama status sosial dan gengsi. Ketika seorang pemilik mobil pribadi rela melipat harga dirinya, duduk di atas tikar pinggir jalan, dan melayani pembeli uang recehan di bawah remang lampu jalanan, itu menandakan benteng gengsi tersebut telah hancur lebur. Ancaman perut lapar dan desakan tagihan harian telah melindas habis ego kelas menengah.

​Fenomena The Vanishing Middle Class

​Dinamika ini makin mempertegas teori tentang hilangnya kelas menengah (The Vanishing Middle Class). Struktur masyarakat kita yang sebelumnya berbentuk belah ketupat dengan kelompok kelas menengah sebagai penopang utama ekonomi, kini perlahan bolong di tengah dan berubah menjadi piramida ekstrem: kelompok sangat kaya di puncak, dan kelompok kelas bawah di dasar.

​Banyak pedagang yang jualan di mobil saat ini adalah korban dari downward mobility (penurunan kelas sosial). Mereka berada dalam kondisi unik: miskin secara finansial dan daya beli, namun masih menguasai aset fisik peninggalan masa mapan.

​Data statistik pemerintah mungkin masih mencatat mereka sebagai masyarakat kelas menengah hanya karena di garasi rumahnya terparkir kendaraan roda empat. Padahal secara realitas sosio-ekonomi, mereka telah terperosok ke kelas bawah yang berjuang mengejar uang makan harian. Mobil tersebut menjadi benteng terakhir agar mereka tidak tenggelam sepenuhnya menjadi miskin ekstrem.

​Celah Hukum dan Kegagalan Tata Ruang

​Dari kacamata sosio-legal, maraknya aktivitas jualan di mobil juga memperlihatkan lemahnya penegakan hukum tata ruang dan perizinan usaha. Pedagang mobil memanfaatkan zona abu-abu hukum perkotaan:

  1. Bebas Sewa Lapak: Mengindari harga sewa ruko atau kios yang makin tidak masuk akal.
  2. Kelemahan Operasional Satpol PP: Petugas kerap enggan atau kesulitan menindak mobil pribadi karena proses penyitaan/penderekan kendaraan ber-STNK membutuhkan biaya logistik dan prosedur hukum yang rumit dibandingkan sekadar mengangkut gerobak kayu.
  3. Pemanfaatan Jam Kerja Birokrasi: Mengambil alih bahu jalan pada malam hari ketika pengawasan aparat penegak Perda sudah mengendur.

​Ini adalah bentuk pembangkangan sipil yang terpaksa (forced civil disobedience). Masyarakat memanfaakan fasilitas publik secara ilegal karena negara gagal menyediakan ruang usaha yang terjangkau dan lapangan kerja yang memadai.

​Kesimpulan

​Fenomena maraknya orang yang jualan di mobil bukanlah tanda bahwa ekonomi rakyat sedang bergairah atau makin kreatif. Sebaliknya, ini adalah gejala klinis dari daya beli masyarakat yang hancur dan perekonomian yang sedang sakit parah.

​Jika pemerintah terus menutup mata dan menganggap fenomena ini sekadar bagian dari geliat UMKM tanpa membereskan akar masalah ketenagakerjaan, inflasi, dan beban hidup kelas menengah, maka kita hanya tinggal menunggu waktu sampai kelas menengah benar-benar punah. Dan ketika hari itu tiba, bagasi mobil di pinggir jalan tidak lagi hanya menjual kopi lima ribuan, melainkan menjadi saksi bisu runtuhnya struktur ekonomi sebuah bangsa.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

πŸ“œ LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET

Komentar

⚠️

Menyalin sukses!
Gunakan artikel ini dengan bijak & sertakan sumbernya, ya! πŸ˜‰