​Pro Kontra Lagu Mas Bahlil Ganteng Di Acara Mubes V Kosgoro 1957

Ilustrasi gambar Bahlil Tepuk Jidat usai lagu mas bahlil ganteng diputar di mubes V kosgoro By Sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

​Lagu plesetan MBG—Mas Bahlil Ganteng—yang diciptakan netizen anonim untuk mengkritik kebijakan program pemerintah, secara mengejutkan viral di tengah acara formal Mubes V Kosgoro 1957.

Peristiwa ini terjadi bukan karena Pak Bahlil sedang aktif mencari siapa pencipta lagu tersebut, seperti pernyataan resmi sebelumnya.

Akan tetapi, lagu sindiran ini diputar secara resmi oleh panitia tepat setelah Bahlil Lahadalia naik ke podium untuk menyampaikan beberapa patah kata di forum sakral salah satu organisasi pendiri Partai Golkar tersebut.

​Entah apa yang dipikirkan oleh panitia acara Mubes V Kosgoro 1957 dengan berani memutar lagu sindiran tajam tersebut di depan orang yang terkait langsung.

Fenomena ini pun memicu perdebatan miring di jagat siber: bagaimana bisa sebuah karya yang awalnya diciptakan tulus untuk kritik kebijakan, malah berakhir tragis dijadikan bahan candaan dan hiburan di forum formal elite politik?

Reaksi tepok jidat dan tawa lepas Bahlil di atas podium pun langsung menuai pro kontra di tengah masyarakat.  Opini publik pun terbelah menjadi dua kubu yang saling serang.

​Sisi Pro: Konstruksi Humas Politik yang Adaptif dan Nggak Baperan

​Bagi kelompok masyarakat dan simpatisan yang memandang peristiwa ini dari sudut Pro, sikap Bahlil dinilai sebagai bentuk kedewasaan politik yang luar biasa di era modern.

Di tengah dominasi Dictatorship of Engagement, di mana algoritma internet sering kali mengeksploitasi kemarahan dan polarisasi publik, keputusan untuk merespons sebuah lagu satire dengan gelak tawa dianggap sebagai oase yang menyegarkan.

​Bahlil dipuji karena memilih jalur adaptif dan tidak baperan (bawa perasaan) terhadap produk kreativitas siber yang menyindir dirinya.

Jika pada era-era sebelumnya kritik atau sindiran terhadap pejabat publik kerap kali berujung pada pengerahan tim hukum, somasi, atau bahkan ancaman jeratan pidana menggunakan undang-undang siber.

Peristiwa di Mubes V Kosgoro ini memperlihatkan pendekatan yang 180 derajat berbeda.

​Dari kacamata komunikasi politik, elite kekuasaan di sini berhasil melakukan strategi hijacking atau pembajakan isu.

Alih-alih memusuhi satire yang diproduksi oleh masyarakat kelas bawah, mereka justru merangkulnya, membawanya ke dalam ruang formal, dan menjadikannya sebagai lelucon internal.

Melalui aksi tepok jidat dan tawa lepas tersebut, Bahlil berhasil mengonstruksi sebuah citra personal branding baru di mata publik: seorang penguasa yang humanis, jenaka, santai, dan kebal terhadap ejekan digital.

​Sisi Kontra: Tragedi Komodifikasi Kritik dan Krisis Rasa Malu Birokrasi

​Namun, jika fenomena ini dibedah menggunakan pisau analisis sosio-legal yang lebih mendalam, di balik gelak tawa dan tepok jidat tersebut justru terpancar sebuah tragedi moral dan sosiologis yang sangat mengkhawatirkan.

Kelompok yang kontra melihat bahwa reaksi tertawa tanpa beban di sebuah forum sakral organisasi pilar penopang partai penguasa mencerminkan hilangnya batas etika dan krisis rasa malu yang akut dalam struktur birokrasi kita.

​Masyarakat harus diingatkan kembali pada akar historis lahirnya lagu tersebut.

Akronim MBG dalam lagu Mas Bahlil Ganteng pada awalnya bukanlah sebuah pujian tulus, melainkan sebuah produk perlawanan kultural.

Sebuah satire tajam yang memplesetkan program krusial negara yang sedang menjadi sorotan publik.

Lagu tersebut lahir dari rahim keresahan netizen terhadap karut-marut tata kelola, distorsi nalar publik, serta rentetan isu penyimpangan yang kerap menerpa program-program strategis pemerintah nasional.

​Ketika sebuah teks perlawanan dan kritik struktural dari rakyat yang sedang kesulitan secara ekonomi justru dibawa ke atas panggung mewah para elite, lalu ditanggapi dengan tawa renyah seolah tanpa dosa, di situlah terjadi proses domestikasi kritik.

Kritik yang substansial sengaja diamputasi nilainya dan direduksi menjadi sekadar komedi panggung hiburan murahan.

​Bagi kubu kontra, disindir secara masif oleh rakyat di media sosial bukanlah sebuah prestasi yang patut ditertawakan di dalam forum resmi.

Sikap menganggap enteng sindiran publik ini seolah mengirimkan pesan tersirat yang sangat arogan kepada masyarakat:

Silakan kalian menyindir lewat lagu sekreatif mungkin di internet, kami para elite di atas panggung formal tidak akan pernah merasa risih, malu, apalagi mengubah kebijakan. Kami justru akan menjadikannya musik latar untuk berdansa bersama.

​Kesimpulan: Ketika Batas Antara Satire dan Realitas Telah Runtuh

​Pada akhirnya, Pro Kontra yang terjadi di balik viralnya lagu Mas Bahlil Ganteng di Mubes V Kosgoro ini merefleksikan sebuah realitas sosiologi hukum yang getir di era digital.

Kami memberikan apresiasi terhadap sikap Pak Bahlil karena tidak merespon lagu kritik ini dengan ancaman hukum, tapi kami juga menyayangkan atas reaksi yang ditunjukkan.

Lagu ini merupakan kritik keras terhadap MBG dan personalnya namun kehilangan esensinya karena diperlakukan sebagai lelucon semata.

Kebijakan publik dan mekanisme kontrol sosial dari masyarakat sipil yang seharusnya dijalankan dengan penuh akuntabilitas dan moralitas, kini perlahan bergeser menjadi sekadar panggung tontonan drama yang sarat akan distorsi.

​Peristiwa ini menjadi bukti nyata bagaimana batas antara ruang evaluasi kebijakan yang serius dan komedi hiburan politik telah resmi runtuh di Indonesia.

Selama tata kelola komunikasi publik dari para pemimpin kita masih mengedepankan mentalitas formalitas panggung tanpa adanya kepekaan nurani terhadap esensi kritik rakyat, maka gelombang satire siber di masa depan akan tetap berakhir tragis: menguap begitu saja sebagai bahan candaan elite di atas panggung kekuasaan mereka.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

πŸ“œ LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET

Komentar