TKI Rawan Disiksa Majikan Kenapa Banyak Peminat jadi Migran?
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)
Kasus penganiayaan oleh majikan kepada pekerja migran indonesia baru-baru ini memanaskan berita di jagat digital. Asisten Tumah Tangga (ART) asal indonesia inisial YY menjadi korban di tanah Jiran, Johor Malaysia. Pemerintah mengambil langkah cepat untuk mengamankan korban, pelaku sudah ditangkap oleh pihak kepolisian Malaysia.
Sebenarnya publik tidak terlalu kaget oleh kejadian ini, karena memang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negeri orang sangat rawan menjadi pelampiasan amarah bahkan pelampiasan nafsu oleh majikan, itu sebabnya banyak orang yang berpikir seribu kali untuk berangkat bekerja menjadi buruh migran.
Berita seperti ini sudah sangat banyak tapi kenapa masih banyak peminatnya untuk jadi migran? Jawaban dari itu tidak bisa kita jawab hanya dengan alasan ekonomi saja, tapi ada alasan-alasan lain yang membuat mereka nekat mengundi nasib, siapa tau dapat majikan baik.
Hal ini pun didukung oleh pekerja migran yang sudah lebih dulu ibaratnya senior di per-TKI-an, banyak yang berkata, tergantung majikan sih buktinya saya aman, orangnya baik tidak seperti yang diberitakan.Narasi-narasi seperti inilah yang membuat calon migran menjadi kuat, misal dari 1000 orang yang bernasib sial hanya 5 orang, itu tidak bisa dijadikan alasan atau judge bahwa menjadi TKI sesuatu yang mengerikan.
Memang pekerjaan sebagai buruh tidak ada jaminan untuk tidak menjadi korban dari kejahatan majikan termasuk di Indonesia sendiri, namun efek psikologisnya jauh lebih parah jika jauh dari tanah air, keluarga dan kerabat.
Status migran apalagi sebagai ART, tukang kebun, supir dan apapun profesinya merupakan status yang rendah bagi orang luar negeri, itu sebabnya mereka mengatakan MAJIKAN, bukan sebagai Bos atau atasan, kata majikan ini sarat akan status sosial yang tinggi. Mengapa sistem kultural yang timpang ini tetap subur peminat?
Efek Doktrin Testimoni Senior yang Membakar Nyali Calon TKI
Jika dianalisis secara mendalam, alasan kenapa TKI rawan disiksa majikan masih banyak peminat jadi migran tidak melulu soal isi dompet yang kosong. Salah satu pemicu paling kuat justru datang dari bias informasi atau doktrin psikologis yang disebarkan oleh sesama buruh migran yang sudah sukses di luar negeri.
Di media sosial seperti TikTok atau Threads, berseliweran konten para senior TKI yang memamerkan kebaikan Majikanmereka. Mulai dari diajak makan mewah, diberi bonus uang belanja besar, hingga diperlakukan seperti keluarga sendiri. Komentar-komentar pembenaran seperti tergantung nasib dan majikaninilah yang menjadi pelipur lara sekaligus tameng mental bagi calon pekerja baru.
Di kepala calon migran, terbentuk sebuah kalkulasi probabilitas yang bias: mereka menganggap persentase korban kekerasan fisik seperti kasus YY di Malaysia jauh lebih kecil ketimbang persentase pekerja yang aman-aman saja. Narasi kesuksesan yang masif ini mereduksi ketakutan nyata akan risiko penyiksaan, sehingga memicu keberanian kolektif di tingkat akar rumput untuk tetap berangkat mendaftarkan diri.
Sosiologi Bahasa: Beban Psikologis di Balik Istilah Majikan
Secara sosio-legal, ada pemisahan kasta sosial yang sangat tebal dalam ekosistem kerja domestik di luar negeri. Penggunaan istilah Majikan(bukan Bos atau Atasan) di negara-negara penampung buruh migran memiliki konsekuensi psikologis yang sangat fatal bagi pekerja. Kata majikan mengandung makna kepemilikan mutlak (ownership) atas tenaga, waktu, bahkan tubuh si pekerja dalam kurun waktu kontrak tertentu.
Ketika seorang pekerja domestik masuk ke ruko atau rumah di tanah jiran, mereka secara otomatis menempati strata sosial terendah di lingkungan tersebut. Status ini rentan memicu superioritas kompleks pada diri si pemilik rumah. Di negara sendiri, seorang buruh pabrik atau ART yang dimarahi masih bisa langsung pulang ke pelukan keluarga atau melapor ke struktur hukum setempat dengan mudah.
Namun di negeri orang, kombinasi antara status sosial rendah sebagai pelayan dan isolasi geografis (jauh dari kerabat serta tanah air) menciptakan efek trauma psikologis yang berlipat ganda ketika kejahatan majikan itu terjadi. Sayangnya, risiko degradasi mental ini sengaja diabaikan oleh calon migran demi mengejar impian stabilitas finansial.
Kesimpulan: Mengundi Nasib di Atas Lemahnya Proteksi Hukum
Kesimpulannya, fenomena TKI rawan disiksa majikan kenapa masih banyak peminatnyaadalah potret nyata dari sebuah perjudian hidup masyarakat kelas bawah yang difasilitasi oleh kultur kepasrahan. Mereka nekat melompati batas negara bukan karena buta akan risiko disiksa, melainkan karena mereka memilih percaya pada narasi indah siapa tahu saya beruntungyang digaungkan para senior mereka.
Selama istilah Majikan masih dianggap sebagai lisensi legal untuk menguasai manusia lain tanpa pengawasan ketat dari negara, dan selama hukum perlindungan migran kita hanya bergerak cepat setelah kasusnya viral di jagat digital, maka paradoks ini akan terus abadi.
Jutaan pahlawan devisa akan tetap rela mengantre dokumen, bertaruh nyawa di bawah status sosial yang rendah, hanya demi selembar mata uang asing yang diharapkan mampu mengubah nasib keluarga di kampung halaman.

Komentar
Posting Komentar