Penemuan Mayat Wanita Alassumur: Batas Kewarasan Reaksi Netizen

Tangkapan layar dari video yang beredar penemuan mayat wanita di desa alassumur kraksaan probolingo

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

Founder KunciPro Research | Peneliti Socio-Legal & Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

​Jumat sore ini (3/7), jagat digital dan warga Probolinggo digegerkan oleh penemuan sesosok mayat perempuan tanpa identitas di dalam sumur irigasi lahan sengon, Desa Alassumur Kulon, Kraksaan. Berita ini langsung menyebar bak tebaran mesiu di platform, Facebook, TikTok, Instagram Live, hingga grup-grup WhatsApp.

​Namun, di balik tragedi kemanusiaan yang memilukan ini, ada satu fenomena sosial-digital yang jauh lebih mengerikan untuk diaudit: Bagaimana ruang digital kita mendadak berubah menjadi panggung sirkus pornografi tragedi (tragedy pornography)?

​1. Ketika Tombol Live dan  Foto Lebih Penting daripada Empati

​Hanya dalam hitungan menit sejak proses evakuasi oleh kepolisian dimulai, puluhan akun media sosial amatir langsung melakukan siaran langsung (Live Streaming). Kamera HP didekatkan ke bibir sumur, mengejar gambar visual paling vulgar, paling tragis, demi mendulang views, likes, dan komentar bakar semangat dari netizen.

​Media siber pun berlomba-lomba memakai judul bombastis tentang kondisi fisik jenazah yang membusuk. Di sini kita melihat bias informasi yang nyata: Tragedi kematian seorang manusia tidak lagi dihormati sebagai kedukaan, melainkan komoditas konten yang siap diuangkan lewat algoritma interaksi.

​2. Penghakiman Massal Sebelum Otopsi Selesai

​Baru saja jasad dievakuasi dan polisi bahkan belum merilis hasil otopsi resmi, kolom komentar media informasi sudah dipenuhi oleh ribuan Detektif Internet dan Hakim Siber. Narasi konspirasi liar mulai bertebaran: dari spekulasi pembunuhan berencana, asmara, hingga mistis.

​Ini adalah bukti nyata betapa malasnya publik kita dalam menyaring informasi. Media menyajikan umpan yang belum matang, dan netizen langsung mengunyahnya mentah-mentah demi memuaskan dahaga gosip digital.

​Kesimpulan: Stop Menjadi Konsumen Informasi yang Haus Darah

​Kasus Alassumur ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Menjadi kritis bukan berarti kita berhak menelanjangi privasi korban dan mendahului proses hukum formal di lapangan.

Tugas kita sebagai konsumen informasi yang cerdas adalah menahan diri, menghentikan penyebaran video vulgar evakuasi, dan memberikan ruang bagi penegak hukum untuk bekerja secara objektif. Jangan biarkan nalar siber kita ikut membusuk di dasar sumur digital.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

๐Ÿ“œ LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET

Komentar