Kapan Kiamat Tiba, Aku Lelah

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)
Kemiskinan, kelaparan, dan kedinginan adalah tiga bilah belati yang paling nyata dalam merobek dada kemanusiaan, dan rasanya teramat sangat menyatukan rasa sakit di sekujur tubuh bangsa ini. Di luar sana, di sepanjang aspal realitas jalanan yang gersang, ada jutaan pasang mata yang menatap langit dengan kepasrahan yang membeku. Mereka bukannya tidak berusaha. Mereka bukan jiwa-jiwa malas yang memilih berpangku tangan meratapi nasib di sudut-sudut kumuh.
Mereka telah memeras keringat hingga darah, mengetuk setiap pintu kesempatan, dan membanting tulang sejak matahari belum terbangun. Namun, segala peluh itu menguap sia-sia menjadi udara kosong karena pintu-pintu usaha dan koridor ruang gerak mereka telah dikunci rapat-rapat oleh labirin kebijakan negeri yang tidak pernah berpihak pada rakyat kecil. Mengamati lingkaran setan ketidakadilan yang dipelihara ini, dari lubuk hati yang paling dalam kita berbisik: kapan kiamat tiba, aku lelah.
Dalam hukum alam yang paling mendasar, sandang, pangan, dan papan adalah satu kesatuan utuh yang tidak boleh ditawar demi menjaga keharmonisan dan martabat hidup seorang manusia. Ketiganya adalah pilar penyangga paling minimal agar seseorang bisa disebut hidup dengan layak. Namun, mari kita lihat bagaimana tatanan sosial kita hari ini bekerja dengan begitu pincang dan cacat logika.
Bagaimana mungkin sebuah kehidupan bisa dipaksa berjalan jika seorang manusia hanya mampu menggenggam salah satu di antaranya dan dipaksa secara kejam untuk melupakan serta mengubur dua kebutuhan lainnya? Ketika perut bisa diganjal seadanya, tubuh harus rela menggigil tanpa atap yang layak. Melihat manusia dipaksa mati perlahan oleh regulasi yang mencekik, batin ini terus meratap, kapan kiamat tiba, aku lelah menghadapi kemunafikan yang tak berkesudahan ini.
Kita terlahir ke dunia ini sebagai orang miskin, tanpa pernah diberi hak untuk memilih di rahim mana kita akan dititipkan. Kita tumbuh besar, melewati masa remaja yang penuh keterbatasan, hingga melangkah ke usia dewasa dengan pundak yang sudah terbiasa memikul beban berat. Sepanjang hayat, seluruh energi dan sisa umur kita habis terjual hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari yang sifatnya menyambung nyawa untuk esok pagi.
Tidak ada ruang untuk mimpi-mimpi besar, tidak ada sisa waktu untuk memikirkan masa depan yang gemilang. Pikiran kita telah dikerdilkan oleh keadaan, dipaksa berputar-putar di dalam labirin yang sama: bagaimana caranya agar hari ini dapur tetap mengepul dan esok hari anak-anak tidak menangis karena kelaparan. Di titik nadir kepasrahan seperti inilah kalimat kapan kiamat tiba, aku lelah berubah menjadi sebuah mantra pertahanan diri dari warasnya dunia yang sakit.
Padahal, jika kita menengok jendela luar, dunia ini teramat luas terbentang. Ada Arabia dengan hamparan kemewahannya, Eropa dengan kemajuan sistemnya, Afrika dengan eksotismenya, dan Asia dengan segala dinamikanya. Bumi ini diciptakan tanpa sekat bagi hamba-hambanya untuk menjelajah.
Namun, bagi kita yang terjebak di garis bawah piramida sosial, jangankan bermimpi untuk melintasi benua menuju luar negeri, sekadar melangkah keluar kota pun harus membuat kita berpikir ribuan kali di depan meja makan. Biaya transportasi melambung tinggi melampaui nalar, sementara harga-harga kebutuhan pokok di pasar terus mencekik leher tanpa pernah mau turun. Mungkin dengan hancurnya semesta, kita semua bisa setara dalam ketiadaan, membuat kita kembali bergumam, kapan kiamat tiba, aku lelah memandang dunia yang indah tapi terjaga ketat oleh modal.
Di tengah himpitan yang bertubi-tubi ini, sebuah gugatan besar lahir dari dasar sanubari yang paling dalam. Apakah sebuah kesalahan mutlak jika kita terlahir sebagai orang miskin di sebuah negara yang juga miskin akan empati? Ataukah ini adalah dosa kolektif dari sebuah negara yang dengan sengaja menutup, membarikade, dan menyumbat akses berkembangnya rakyat sendiri melalui regulasi yang ekstraktif?
Ketika kita berada di titik paling bawah, saat kelaparan membakar isi perut, Pemerintah mendadak buta. Ketika tubuh kita kedinginan di bawah jembatan dan ruko-ruko tua, Pemerintah mendadak tuli. Ketika tubuh ini ringkih digerogoti penyakit dan tak mampu membeli obat, Pemerintah mendadak bisu. Menghadapi penguasa yang buta, tuli, dan bisu ini, akal sehat rasanya ingin menyerah dan berteriak ke langit: kapan kiamat tiba, aku lelah!
Namun, di sinilah letak ironi terbesar yang meremukkan seluruh logika hukum dan sosiologi kita. Di kala kita merangkak dengan sisa-sisa tenaga yang ada, bertarung melawan takdir, dan entah bagaimana akhirnya berhasil memetik sedikit kesuksesan dari hasil keringat sendiri tanpa bantuan sepeser pun dari tangan negara, mengapa tanpa perlu aplikasi Google Maps pun wajah birokrasi itu sudah berdiri tegak di depan pintu rumah kita untuk meminta dan menagih pajak?
Mereka yang absen saat kita berdarah-darah, tiba-tiba menjadi yang paling depan dan paling presisi menemukan alamat rumah kita saat ada keuntungan yang bisa diperas. Sungguh sebuah penindasan legal yang sangat rapi. Rasanya, mungkin dengan kiamat kita bisa istirahat dari ketidakadilan ini. Ya, mungkin hanya lewat kehancuran total semesta kita bisa benar-benar menyudahi penindasan terstruktur ini, karena itulah nurani kecil ini terus mengulang pasrah: kapan kiamat tiba, aku lelah.
Aku lelah dengan dunia ini, kapankah kiamat itu akan datang menjemput? Pertanyaan ini meluncur bukan sebagai bentuk keputusasaan yang dangkal dari seorang manusia yang kalah bertaruh dengan nasib. Sama sekali bukan.
Kalimat ini adalah sebuah manifesto kejenuhan jiwa yang sudah tidak sanggup lagi melihat, menyaksikan, dan merasakan bagaimana kemiskinan ekstrem di sekitar kita terus direproduksi dan dipelihara oleh sistem. Kita membutuhkan akhir dari segalanya, karena di dunia yang obor-abir ini, keadilan tidak akan pernah tegak di atas meja birokrasi. Jika satu-satunya cara untuk mendapatkan hak istirahat yang tenang dari kelaliman bernegara ini adalah dengan hancurnya peradaban, maka biarlah takdir itu segera digulirkan. Kapan kiamat tiba, aku lelah.
Komentar
Posting Komentar