Baby Blues Bukan Cuma Hormon, Tapi Soal Tak Sanggup Bayar Suster

Ilustrasi AI ketimpangan kelas sosial pada ibu baru yang mengalami baby blues dan beban rumah tangga. By Sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

Founder KunciPro Research | Peneliti Sosio-Legal terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

​Berbagai penelitian medis dan literatur psikologi populer sibuk mengulang-ulang narasi yang sama: baby blues syndrome disebabkan oleh lonjakan dan keanjlokan hormon yang tidak stabil pascamelahirkan.

Teori ini tentu tidak salah, tetapi terasa sangat dangkal dan kurang memahami realita di lapangan karena menyempitkan masalah murni pada kacamata emosional dan biologis semata.

​Lebih parahnya lagi, ketika kita melabeli baby blues sebagai akibat dari emosi wanita yang tidak stabil, ada ketidakadilan sistemik yang langsung mengintai sang ibu.

​Stigma emosional ini menjadi senjata bagi lingkungan sekitar untuk menyalahkan korban (victim blaming).

Mertua akan dengan gampang menghakimi bahwa menantunya tidak bisa mengurus anak atau kurang sabar. Di saat yang sama, suami ikut-ikutan menyalahkan istri yang dianggap terlalu dramatis dan tidak pintar menjaga emosi.

Padahal, jika keluarga atau lingkungan sekitar mau ambil bagian secara konkret mulai dari urusan ganti popok, menyuci baju bayi, hingga menjaga jadwal main anak beban emosional ibu baru tentu akan berkurang drastis.

​Mitos Pakar dan Ketenangan Palsu

​Sering kali kita mendengar analisis bias dari pakar atau pembicara publik seperti di media radio atau seminar pengasuhan yang menyatakan bahwa

anak lebih tenang bersama ayah atau suster karena ibu gampang ikut rewel saat bayi rewel.

​Narasi ini sangat bias dan tidak adil. Ada logika dasar yang sengaja diloncati:

  • Suster atau baby sitter bisa terlihat super telaten dan tenang bukan karena mereka punya ilmu ajaib, melainkan karena pengasuhan adalah pekerjaan profesional yang berbatas waktu dan digaji. Suster punya jam istirahat, bisa tidur lelap setelah shift-nya selesai, dan tidak menanggung beban pikiran rumah tangga lainnya.
  • Ayah sering kali kelihatan lebih santai karena hanya berinteraksi dengan anak dalam durasi terbatas biasanya setelah pulang kerja atau saat anak sudah dalam kondisi segar bukan dalam marathon 24 jam tanpa tidur.

​Membandingkan ketenangan suster/ayah yang beristirahat cukup dengan seorang ibu baru yang sleep deprived dan kelelahan mengurus rumah adalah bentuk manipulasi logika yang menghakimi.

​Ketimpangan Kelas di Balik Baby Blues

​Jika kita mau jujur memperhatikan realita sosial, ibu-ibu dari kelas atas, mereka yang mampu menyewa suster newborn, baby sitter, hingga Asisten Rumah Tangga (ART) cenderung jauh lebih aman dari ancaman baby blues.

​Apakah hormon wanita kaya tidak bergejolak setelah melahirkan?

Atau apakah karena gizi dan pola makan kelas atas lebih terjaga?

Jelas bukan itu alasan utamanya. Mereka lebih aman karena memiliki modal untuk melimpahkan seluruh beban fisik dan pekerjaan domestik kepada pihak ketiga.

​Dari kacamata sosiologi dan hukum (sosiolegal), fenomena ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan masalah medis murni, melainkan wujud nyata dari ketimpangan strata kelas hidup.

​1. Modalisasi Pengasuhan dan Komodifikasi Waktu

​Di era modern, waktu untuk beristirahat dan ketenangan pikiran telah menjadi barang mewah yang harus dibeli dengan uang.

​Seorang ibu kaya yang baru melahirkan dapat menyerahkan urusan bayi menangis di tengah malam, popok kotor, pakaian menumpuk, hingga masakan rumah kepada pekerja berbayar. Pekerjaan domestik yang melelahkan (unpaid care work) langsung di-outsourcing-kan.

​Ketika seluruh beban fisik tersebut dialihkan, sang ibu memiliki privilege berupa waktu untuk pulih secara fisik dan emosional.

​Sebaliknya, bagi ibu dari kelas pekerja:

  • ​Ia harus menyusui di tengah malam, mencuci pakaian bayi, memasak, dan membersihkan rumah seorang diri.
  • ​Waktu untuk sekadar tidur lelap selama 4 jam berturut-turut menjadi kemewahan yang mustahil dijangkau.

​2. Kelelahan Akumulatif dan Beban Penghakiman Domestik

​Masyarakat sering kali dengan gampang melabeli ibu baru yang stres atau gampang menangis sebagai sosok yang kurang bersyukur atau korban hormon.

​Padahal yang terjadi sebenarnya adalah kelelahan fisik yang terakumulasi (chronic physical exhaustion). Ketika tubuh tidak pernah diberi jeda untuk pulih karena harus menangani rumah dan bayi sekaligus tanpa backup, ketahanan mental siapa pun pasti akan runtuh.

​Orang berkecukupan terhindar dari fase runtuh ini bukan karena mereka lebih tangguh secara mental, melainkan karena mereka sanggup membeli tenaga cadangan dalam bentuk suster dan ART, sehingga terbebas dari stigma dan penghakiman keluarga.

​3. Tinjauan Hukum dan Kebijakan: Minimnya Jaring Pengaman Negara

​Dalam hukum ketenagakerjaan dan kebijakan sosial di Indonesia, pekerjaan domestik dan pengasuhan anak masih dipandang murni sebagai urusan privat rumah tangga, bukan kontribusi sosial yang layak didukung negara.

​Negara belum hadir untuk menyediakan jaring pengaman bagi ibu dari kelas pekerja:

  • Fasilitas Daycare Publik: Sangat minim dan belum menjadi standar layanan umum yang terjangkau bagi rakyat kecil.
  • Cuti Melahirkan Bagi Suami (Paternity Leave): Masih sangat minim di sektor formal, apalagi bagi pekerja harian/informal. Akibatnya, suami dipaksa langsung kembali bekerja penuh demi mencari nafkah, meninggalkan istri berjuang sendirian di rumah.

​Ini Masalah Ketimpangan Kelas, Bukan Sekadar Medis

​Menggambarkan baby blues murni sebagai masalah hormon dan emosi wanita adalah bentuk pengabaian terhadap realitas ekonomi dan ketidakadilan domestik.

​Sudah saatnya kita menghentikan romantisasi Ibu Tangguh yang dipaksa melakukan segalanya sendirian sambil terus dihakimi.

Selama ketimpangan beban domestik tidak dibenahi dan perlindungan sosial bagi ibu dari kelas pekerja masih minim, baby blues akan terus menjadi bukti telanjang dari ketidakadilan strata kelas dalam pengasuhan anak.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

πŸ“œ LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET
⚠️

Menyalin sukses!
Gunakan artikel ini dengan bijak & sertakan sumbernya, ya! πŸ˜‰