dr. Tamara Dewi Jasmine dan Fenomena Nakes Menolak Sadar
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Founder KunciPro Research | Peneliti Sosio-Legal terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)
Kasus dugaan penelantaran hingga perundungan (bullying) terhadap almarhum Yurizal Tri, seorang pasien pengguna layanan BPJS Kesehatan, menjadi sorotan tajam dan memicu kemarahan publik di media sosial.
Duka mendalam yang dirasakan oleh keluarga korban seolah diperberat oleh rentetan komentar bernada miring dan ketikan kurang berempati.
Komentar-komentar tersebut dilontarkan oleh berbagai pihak, mulai dari oknum tenaga kesehatan (nakes), warga net umum, hingga akun-akun yang memiliki relasi kerja sama dengan ekosistem medis salah satunya akun @ayannariche.
Namun, di tengah gelombang kritik terhadap berbagai akun tersebut, perhatian massa siber mendadak terkunci pada satu sosok: dr. Tamara Dewi Jasmine (@tamdjs). Respon dan tanggapan yang ia berikan dinilai unik sekaligus ekstrem oleh publik.
Di saat reaksi umum terhadap krisis komunikasi adalah mengklarifikasi atau meredam suasana, ia dinilai menolak secara tegas untuk sadar akan kekeliruannya, enggan menyampaikan klarifikasi yang mendinginkan, serta menolak meminta maaf baik secara privat kepada keluarga korban maupun secara terbuka di hadapan publik.
Tiga Opsi Perilaku dalam Perspektif Antropologi Siber
Dalam disiplin antropologi siber ilmu yang mengkaji pola perilaku, interaksi, dan kebiasaan manusia di ruang digital individu yang terlanjur terjebak dalam krisis komunikasi atau blunder publik umumnya akan mengambil salah satu dari tiga jalur tindakan:
1. Sadar dan Meminta Maaf (Cuci Kaki)
Langkah ini merupakan respon yang paling rasional dalam manajemen krisis digital. Dengan mengakui kekeliruan secara terbuka dan tulus, pelaku pada dasarnya memotong pasokan bahan bakar emosi massa. Dalam dinamika siber, amarah netizen bergerak berdasarkan hukum stimulus-respon.
Ketika sumber emosi menghentikan retorika defensif dan menunjukkan rasa penyesalan, dorongan kolektif untuk melakukan penyerangan akan kehilangan traksi secara signifikan dalam waktu singkat.
2. Diam atau Menarik Diri (Kabur)
Pilihan ini dilakukan dengan cara menonaktifkan akun, menutup kolom komentar, atau menghentikan seluruh aktivitas digital sementara waktu. Meskipun langkah ini tidak menyelesaikan akar permasalahan secara substantif, secara taktis pilihan ini cukup efektif memblokir rangsangan baru.
Tanpa adanya tanggapan baru yang menyulut amarah, perhatian massa siber yang pada dasarnya mudah terdistraksi akan perlahan beralih ke isu viral lainnya.
3. Menantang Massa Siber (Nantangin)
Ini adalah jalur yang paling ekstrem dan berisiko tinggi. Alih-alih melakukan introspeksi atau menarik diri, individu justru memilih menghadapi amarah kolektif dengan melontarkan argumen defensif, nada sinis, hingga umpatan.
Pilihan ini biasanya didorong oleh mekanisme pertahanan ego (ego defense mechanism), di mana seseorang merasa memiliki status sosial, intelektual, atau privilege tertentu yang tidak boleh terlihat lemah di hadapan publik.
Sayangnya, dalam kasus ini, dr. Tamara Dewi Jasmine terlihat memilih jalur ketiga. Melalui berbagai tanggapannya di platform Threads, ia justru mempertegas argumen yang dinilai mendiskreditkan pengguna BPJS Kesehatan.
Narasi yang dibangun seolah-olah memberikan pemakluman bahwa masyarakat pengguna fasilitas kesehatan bersubsidi tidak sepantasnya mengharapkan pelayanan yang optimal hanya karena tidak membayar secara tunai (cash) atau tidak menggunakan layanan asuransi swasta yang mahal.
Implikasi Sosio-Legal dan Resiko Cyber Vigilantism
Dari sudut pandang sosio-legal, keputusan untuk menantang arus emosi publik di tengah isu sensitif pelayanan kesehatan masyarakat membawa dampak berantai yang sangat merusak, baik bagi individu maupun lingkungan sosialnya:
1. Benturan Ego Profesi dengan Kode Etik (KODEKI)
Profesi kedokteran bukanlah profesi bisnis biasa; ia terikat erat oleh sumpah profesi dan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI). Seorang nakes memikul tanggung jawab moral untuk bersikap empati, adil, dan tidak diskriminatif terhadap pasien dari latar belakang ekonomi mana pun.
Ketika narasi yang membeda-bedakan martabat pasien berdasarkan kemampuan finansial dilontarkan ke ruang publik, hal itu bukan lagi sekadar pendapat pribadi, melainkan potensi pelanggaran etika yang mencederai tingkat kepercayaan publik terhadap seluruh institusi medis.
2. Reaksi Balik Massa: Online Shaming dan Doxxing
Di era keterbukaan informasi, ketika saluran komunikasi berempati tersumbat dan rasa keadilan publik terusik, netizen cenderung mengambil alih peran penegak moral melalui mekanisme cyber vigilantism.
Fenomena ini diwujudkan dalam bentuk pembongkaran rekam jejak digital (digital audit), penelusuran identitas pribadi, pelacakkan dokumen administratif, hingga pembukaan riwayat masa lalu ke hadapan publik. Begitu gelombang ini bergulir, dampak sosialnya sangat sulit untuk dikendalikan.
3. Eskalasi Dampak ke Lembaga dan Organisasi
Sikap menolak sadar di ruang siber jarang sekali berdampak hanya pada satu individu. Amarah publik yang tak terakomodasi akan meluas dengan cara menuntut akuntabilitas dari lembaga-lembaga yang menaungi individu tersebut mulai dari organisasi profesi, tempat bekerja, hingga organisasi pendamping institusional.
Tekanan publik ini kerap memaksa organisasi untuk mengambil tindakan tegas guna melindungi reputasi lembaga dari dampak blunder anggotanya.
Penutup
Kasus dr. Tamara Dewi Jasmine memberikan pelajaran yang sangat berharga mengenai pentingnya etika dan kedewasaan dalam berkomunikasi di ruang digital. Media sosial bukan sekadar tempat meluapkan emosi atau menunjukkan superioritas status. Di ruang terbuka ini, setiap ketikan memiliki bobot sosial dan hukum yang nyata.
Ketika sebuah kekeliruan atau salah ucap terlanjur terjadi, mengakui kesalahan dengan lapang dada bukanlah bentuk kekalahan, melainkan manifestasi dari integritas dan kedewasaan etis. Memilih untuk menolak sadar dan terus melayani perdebatan di tengah amarah massa yang tersakiti hanya akan mengubah sebuah kesalahan komunikasi biasa menjadi krisis reputasi yang bersifat permanen dan sulit dipulihkan.

Komentar
Posting Komentar