Protes Desil Bansos Tidak Tepat? Ini Faktanya!
Dinamika media sosial belakangan ini kembali diwarnai oleh drama klasik yang melibatkan ketidakpahaman publik terhadap kebijakan negara. Kasus yang sempat mencuat dari unggahan akun seperti Dadangholic menjadi cerminan sempurna bagaimana linimasa kerap kali dibanjiri oleh amarah instan.
Narasi yang dibangun biasanya seragam: merasa diri atau keluarganya berada di Desil 1 yang notabene adalah kelompok termiskin, tetapi tidak pernah tersentuh bantuan sosial. Sebaliknya, tetangga yang dicap berada di Desil 4 justru kedapatan menerima sembako.
Ketimpangan ini langsung memicu gelombang kecemburuan sosial hingga berujung pada aksi meluapkan kekesalan secara terbuka di media sosial, bahkan menyerang petugas sensus yang dianggap bekerja asal-asalan demi mengejar target.
Namun, jika ditarik lebih jeli ke akarnya, protes-protes bernada iri tersebut sering kali tidak didasari oleh keinginan untuk memperbaiki data secara substansial, melainkan murni luapan rasa FOMO (Fear of Missing Out) dan iri hati ketika melihat orang lain mendapat bantuan sementara dirinya tidak.
Banyak warganet yang langsung menuding sistem bobrok tanpa mau repot-repot memahami bagaimana sebenarnya mekanisme pemetaan kesejahteraan itu bekerja.
Akar dari keributan di dunia maya ini berawal dari misinformasi masif yang mengasumsikan bahwa cakupan desil hanya dihitung berdasarkan besaran nominal pendapatan per bulan semata. Padahal, pemerintah melalui Pusdatin Kesos Kementerian Sosial tidak pernah merilis pernyataan resmi bahwa desil hanya dilihat dari pendapatan bulanan.
Mengandalkan angka pendapatan lisan secara kaku justru sangat rentan menimbulkan bias dan ketidakakuratan fatal di lapangan.
Berdasarkan standar resmi, desil merupakan kelompok kesejahteraan keluarga yang diukur secara komprehensif menggunakan metode sosio-ekonomi yang kompleks. Variabel yang dinilai mencakup keterangan individu seperti pekerjaan dan pendidikan, kondisi fisik perumahan hingga daya listrik yang digunakan, serta kepemilikan aset berharga.
Terdapat 10 desil di mana masing-masing kelompok memuat 10% keluarga di Indonesia. Desil 1 hingga 4 (40% kelompok terbawah) adalah sasaran yang sah diusulkan sebagai penerima bantuan sosial seperti PKH dan Sembako, sementara Desil 5 diproyeksikan untuk peserta PBI-JK.
Persoalan menjadi runyam ketika warga yang merasa berhak melampiaskan kemarahannya kepada pihak yang salah. Petugas sensus di lapangan murni bertugas mengumpulkan data mentah, bukan pihak yang berwenang mengetok palu siapa yang berhak menerima bansos.
Selain itu, status desil yang tampak melompat sering kali dipengaruhi oleh faktor teknis kependudukan, seperti posisi Kartu Keluarga (KK) yang masih menyatu dengan orang tua atau anggota keluarga lain yang kondisi ekonominya sudah mapan. Ketika data ditarik dari integrasi lintas instansi mulai dari BPS, DTKS, hingga Disdukcapil kondisi riil di dalam satu KK tersebut tentu akan memengaruhi hasil akhirnya.
Ironisnya, alih-alih menempuh jalur administratif yang sah untuk memperbaiki data, sebagian warganet lebih memilih jalur viral demi memancing simpati publik dan melampiaskan iri hati. Padahal, status desil bersifat dinamis dan bisa diperbarui secara berkala.
Jika data di lapangan dirasa tidak sesuai dengan kenyataan, masyarakat sebenarnya memiliki ruang resmi untuk melapor melalui perangkat desa/kelurahan, dinas sosial, atau langsung lewat aplikasi Cek Bansos agar data tersebut dapat dihitung ulang secara periodik oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Sudah saatnya masyarakat bersikap lebih dewasa dalam menyikapi kebijakan perlindungan sosial. Protes yang didasari rasa iri tanpa literasi data yang memadai tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan hanya memperkeruh ruang publik dengan kegaduhan yang tidak produktif.
Transparansi negara sudah menyediakan jalurnya, kini tinggal bagaimana warga memilih untuk cerdas mengurus data atau sekadar menjadi penonton yang hobi merengek di linimasa.
