​Gus Miftah Cari Sensasi dengan Pepatah Jawa di Threads?

Gus miftah kena serang netizen usai buat utas pepatah jawa. By Sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

Founder KunciPro Research | Peneliti Socio-Legal & Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

Jagat siber Indonesia kembali disuguhkan tontonan sirkus digital yang memikat sekaligus memprihatinkan. Niat hati ingin tampil filosofis dan penuh wibawa dengan membagikan untaian pepatah Jawa kuno di platform Threads, pendakwah kondang Gus Miftah justru harus menelan pil pahit.

Utasnya yang berbunyi, yen galak ojo celutak, yen celutak ojo pisan pisan galak... yang bangsat itu sudah celutak tapi sok galak. Dasar... tuman! bukannya memanen decak kagum atau perenungan spiritual, melainkan memicu badai resistensi radikal dari netizen.

Puluhan Like, ribuan komen dan beberapa repost ulang utas tersebut bukan karena terpukau atau setuju, melainkan sebagai pemanggilan netizen-netizen lain untuk sama-sama menghujatnya.

​Banyak pihak terburu-buru menilai aksi Gus Miftah cari sensasi dengan pepatah Jawa ini sebagai langkah blunder. Kolom komentar platform tersebut dalam sekejap bermutasi menjadi sindiran dan galeri digital massal yang memajang ulang potongan video dan foto peristiwa kelam Desember 2024 silam.

Momen dimana ketika sang pendakwah melontarkan kata-kata kasar kepada seorang pedagang es teh di Magelang yang berujung pada pengunduran dirinya dari jabatan Utusan Khusus Presiden.

​Namun, di samping kegaduhan hujatan netizen yang meledak ulang, penting bagi kita untuk membedah secara objektif: apa sebenarnya arti filosofis dari pepatah Jawa yang dilemparkan Gus Miftah, dan mengapa beliau tergerak untuk membuat utas tersebut?

​Membedah Filosofi Kedalaman Rasa: Yen Galak Ojo Celutak

​Secara kultural-antropologis, pepatah yen galak ojo celutak, yen celutak ojo pisan pisan galak adalah sebuah wejangan adiluhung dalam falsafah hidup masyarakat Jawa yang mengatur etika sosial dan kontrol diri.

  • Galak dalam konteks ini tidak melulu berarti pemarah atau buas, melainkan merepresentasikan ketegasan, prinsip yang kuat, atau posisi kekuasaan (otoritas).
  • Celutak (atau sering disebut cluthak) adalah istilah bahasa Jawa untuk menggambarkan sifat serakah, gemar mengambil yang bukan haknya, murahan, atau tidak punya harga diri dalam memenuhi syahwat duniawi (termasuk urusan perut dan materi).

​Secara filosofis, kearifan lokal ini mengajarkan prinsip keseimbangan moral: Jika Anda memilih menjadi orang yang tegas, berprinsip, atau berada di posisi atas yang disegani (galak), maka jangan sekali-kali Anda bermental murahan atau serakah (celutak).

Sebaliknya, jika Anda sudah telanjur bermental murahan atau tidak bisa menjaga harga diri (celutak), jangan sekali-kali Anda sok tegas atau sok berkuasa (galak) di depan orang lain.

​Masyarakat Jawa kuno menganggap kombinasi sudah celutak tapi sok galak sebagai puncak degradasi moral terendah seorang manusia—sebuah kepalsuan watak di mana seseorang kehilangan wibawa batinnya tetapi tetap memaksakan ego kekuasaannya kepada publik.

​Mengapa Gus Miftah Membuat Utas Tersebut?

​Jika dibedah dari sudut pandang sosio-komunikasi, motif Gus Miftah melempar pepatah ini tampaknya merupakan bentuk counter-narrative atau sindiran halus (sarkasme kultural) terhadap fenomena sosial yang sedang ia amati di dunia nyata maupun ruang siber baru-baru ini.

Beliau kemungkinan besar sedang menyoroti para kritikus, oknum pejabat, atau sesama figur publik yang dalam pandangannya sering berlagak galak (sok suci, sok tegas mengkritik) di media sosial, namun di balik layar justru memiliki kelakuan yang celutak (cacat moral, korup, atau oportunis).

​Sebagai seorang pendakwah yang lekat dengan kultur pesantren Jawa, penggunaan instrumen bahasa daerah adalah taktik komunikasi yang biasa ia gunakan untuk menyentil realitas sosial secara tajam (ditandai dengan penekanan kata "bangsat" dan "tuman").

Utas tersebut sejatinya diniatkan sebagai otokritik kolektif bagi ekosistem digital agar manusia tidak terjebak dalam kemunafikan watak.

​Benturan Nalar Publik dan Hambatan Jejak Digital

​Sayangnya, pesan filosofis yang sangat dalam itu gagal total tersampaikan akibat hambatan sosiologis yang membentur wibawa sang pembicara. Melalui kacamata sosiolegal, di sinilah teori Nalar Publik bekerja.

Netizen mengalami disonansi kognitif akut karena ingatan kolektif mereka langsung mengaitkan kata celutak dan galak dengan perilaku masa lalu beliau pada kasus viral es teh 2024 lalu.

Hukum siber seakan memberi ruang bagi netizen pendendam untuk membuka lagi lembaran kelam bahkan beberapa tahun silam.

Bagi netizen, tindakan membentak rakyat kecil secara verbal dinilai sebagai perbuatan galak yang salah tempat, sekaligus celutak karena menurunkan derajat marwah seorang pemuka agama tidak termaafkan begitu saja.

​Kekuasaan narasi kini telah terdesentralisasi ke ujung jempol netizen di platform seperti Threads. Akibatnya, alih-alih merenungkan isi pepatah Jawa yang dibagikan, publik justru melakukan cyber tribunal dan serangan balik.

Ini menjadi pelajaran hukum alam siber yang sangat berharga: sebuah nasihat yang mulia sekalipun akan kehilangan daya magisnya apabila sang komunikator belum sepenuhnya berhasil memulihkan legitimasi moralnya di mata masyarakat digital. Internet bertindak sebagai mesin waktu abadi yang menuntut konsistensi watak yang paripurna antara ucapan dan tindakan nyata di dunia empiris.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

๐Ÿ“œ LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET

Komentar