Fajar sadboy mati suri, kalian percaya?
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Founder KunciPro Research | Peneliti Socio-Legal & Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)
Jagat media sosial belakangan ini kembali dihebohkan oleh potongan video viral mengenai pengakuan mengejutkan dari Fajar Sadboy. Dalam berbagai siniar (podcast) horor populer, remaja yang terkenal dengan kutipan-kutipan galaunya itu mengklaim pernah mengalami mati suri selama 13 hari saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Narasi ini langsung membelah netizen menjadi dua kubu: masyarakat yang fanatik pada hal mistis dan kelompok yang skeptis. Judul di atas sengaja diajukan untuk menampar logika dan mendobrak bias kepercayaan kita semua.
Di satu sisi, kita harus mengakui bahwa fenomena mati suri bukanlah hal baru dalam kebudayaan masyarakat Indonesia. Ada begitu banyak cerita lisan yang beredar dari mulut ke mulut bahwa fenomena ini benar-benar ada.
Mulai dari kesaksian warga, pengalaman langsung kerabat, hingga kisah legendaris tentang orang yang sudah dikafani, dimandikan, bahkan diturunkan ke liang kubur, tiba-tiba bergerak, keluar dari kuburan, dan hidup kembali. Masyarakat kita terlanjur memiliki cetak biru (blueprint) bahwa definisi mati suri yang sah adalah ketika seseorang sudah dinyatakan meninggal secara adat dan agama, lalu kembali bernapas.
Namun, mari kita bedah kasus Fajar Sadboy mati suri ini menggunakan nalar yang lebih jernih. Selama 13 hari tidak sadarkan diri itu, apakah Fajar sudah dikubur di dalam tanah, atau dia sebenarnya hanya terbaring di atas kasur rumah atau rumah sakit?
Distorsi Definisi: Antara Koma Medis dan Mistis Kultural
Jika faktanya Fajar hanya terbaring diam di tempat tidur dengan fungsi organ yang masih berjalan, maka dalam kacamata medis, kondisi tersebut mutlak disebut sebagai koma atau delirium berat akibat penyakit tertentu. Sangat keliru jika kondisi koma medis ini langsung dilabeli sebagai mati suri demi kebutuhan dramatisasi konten.
Masyarakat kita sering kali mengalami disorientasi logika dalam membedakan antara fenomena biologis dan pengalaman supranatural. Industri hiburan digital memanfaatkan celah ini.
Narasi sakit parah masa kecil dikemas ulang menggunakan bumbu-bumbu mistis—lengkap dengan cerita melihat kambing kayang—agar algoritma media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube melesat tinggi. Kita dipaksa mengunyah dongeng mistis selebritas hanya karena tim rekruter konten haus akan views dan engagement digital.
Sadar atau Tidak, Kita Mati Suri Setiap Hari
Jika kita mau jujur dan berpikir lebih dalam, esensi dari kehilangan kesadaran sebenarnya terjadi pada kita semua secara siklikal. Sadar atau tidak, kita semua mengalami mati suri setiap harinya. Aktivitas itu bernama tidur.
Saat tidur, kesadaran kita tercerabut dari realitas fisik. Kita tidak tahu apa yang terjadi di sekeliling kita, dan ruh kita seolah mengembara ke dimensi lain, memproduksi mimpi-mimpi aneh yang terkadang terasa sangat nyata. Secara biologis, tidur adalah fase istirahat, namun secara filosofis, ia adalah miniatur dari kematian itu sendiri.
Jika seseorang yang tidak sadarkan diri selama 13 hari di atas kasur langsung dicap mengalami mati suri, lantas bagaimana kita memandang kisah sakral Ashabul Kahfi (Para Penghuni Gua)? Dalam catatan teologi dan sejarah, pemuda-pemuda tersebut ditidurkan oleh Tuhan di dalam gua selama 309 tahun lamanya.
Tubuh mereka tetap utuh, mereka tidak dikubur, dan mereka hanya terbaring. Kitab suci dengan tegas menyebut mereka "tidur", bukan mati suri dalam artian biologis yang mati lalu hidup lagi.
Kesimpulan: Menolak Pembodohan Berkedok Konten Horor
Artikel ini tidak hadir untuk mendiskreditkan pengalaman spiritual seseorang, melainkan untuk menantang cara masyarakat kita mengonsumsi sebuah informasi. Mengapa kita begitu mudah percaya pada label mistis yang dijual oleh industri podcast hiburan, sementara nalar kritis kita mendadak tumpul?
Mati suri yang dipercaya masyarakat punya bobot sakralnya sendiri melalui kesaksian fisik yang ekstrem. Sementara klaim tidak sadarkan diri di atas kasur rumah selama belasan hari adalah wilayah sains bernama koma, atau wilayah spiritual bernama tidur panjang yang diselimuti mimpi. Sudah saatnya kita berhenti bersikap naif dan mulai memisahkan mana pengalaman biologis yang nyata, dan mana narasi komedi-mistis yang sengaja diproduksi demi meraih cuan digital di internet.
Jadi, setelah melihat fakta-fakta struktural ini, Fajar Sadboy mati suri, kalian percaya?
Komentar
Posting Komentar