MPLS Anak Sekolah Bentuk Mental Siswa Lemah dan Manja?

Ilustrasi gambar perbedaan MPLS dengan MOS peserta didik baru. By sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

Founder KunciPro Research | Peneliti Socio-Legal & Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

​Setiap memasuki tahun ajaran baru pada pertengahan Juli 2026, linimasa media sosial kita selalu dipenuhi oleh dokumentasi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau yang kini akrab disebut MPLS anak sekolah. Berdasarkan aturan resmi dari Kementerian Pendidikan, format pengenalan sekolah zaman sekarang wajib mengusung tema ramah anak, edukatif, inklusif, dan bebas dari segala bentuk tekanan fisik maupun psikologis.

Aturan ketat ini lahir sebagai respons atas trauma masa lalu terhadap era OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) atau MOS (Masa Orientasi Siswa) yang terkenal kejam dan militeristik. Namun, jika kita bedah dengan jujur menggunakan kacamata sosiologi perkembangan, muncul sebuah ironi besar dari realitas jalanan: format yang terlalu lembek dan protektif ini justru menjadi hulu dari fenomena MPLS Bentuk Mental Siswa Lemah di era modern.

Namun, jika dibedah dari segi sosio-legal, hukum sebab-akibat (kausalitas sosial) sangat erat kaitannya dalam membentuk struktur masyarakat. Jika penyebabnya adalah generasi yang digembleng dengan berat dan disiplin baja, maka akibatnya mereka akan tumbuh menjadi individu yang bermental kuat di lapangan. Begitu pula sebaliknya.

Bagaimana jika pembentukan karakter yang kokoh itu sengaja dihilangkan dan diganti demi sebuah "keromantisan" kenyamanan semu? Yang terjadi adalah lahirnya generasi yang mudah digoyahkan. Depresi kini menjadi salah satu hal yang tidak tertahankan dan tak terelakkan di kalangan remaja, hanya karena mentalitas mereka sama sekali tidak terbiasa diuji sejak dini. Realitas jalanan inilah yang menjadi hulu mengapa MPLS Bentuk Mental Siswa Lemah di era modern.

​Paradoks MPLS Milenial: Pemberontakan Berujung Kemunduran Mental

​Ada fenomena sosio-politik yang sangat menarik ketika kita melihat siapa orang-orang di balik perumusan kebijakan pendidikan ramah anak hari ini. Saat ini, generasi milenial terakhir sedang berada di puncak performa mereka dan menduduki berbagai jabatan strategis—mulai dari kepala dinas, pengambil kebijakan di birokrasi, hingga menjadi komite sekolah dan orang tua murid aktif.

​Ketika faksi milenial ini memegang kendali kekuasaan, mereka seakan berkata secara kolektif di dalam hati: Saya tidak akan membiarkan pengalaman pahit dan keras waktu saya sekolah dulu dialami oleh anak-anak generasi saat ini. Ini adalah bentuk balas dendam positif atas trauma masa lalu mereka yang pernah dijemur di halaman sekolah, dibentak guru, dan memakai atribut aneh aturan MOS.

​Namun, ada satu hal krusial yang luput dari kesadaran mereka. Tanpa disadari, justru disiplin yang super keras, gemblengan mental tanpa ampun, dan benturan-benturan psikologis di masa sekolah dululah yang membentuk kepribadian mereka menjadi individu yang tangguh saat ini.

Disiplin baja itulah yang membawa generasi milenial mampu duduk di jabatan-jabatan strategis hari ini tanpa menjadi manusia yang baperan (bawa perasaan) ketika menghadapi tekanan kerja. Mentalitas mereka telah diasah, diuji, dan dikristalkan sejak usia sekolah, sehingga mereka tidak mudah tumbang oleh kritik sekeras apa pun di dunia nyata.

​Ketika Siswa Menjadi Raja dan Guru Kehilangan Taring

​Ketika proteksi berlebihan ini ditumpahkan ke dalam regulasi MPLS dan ekosistem sekolah modern, hasilnya adalah pergeseran relasi kuasa yang kebablasan. Siswa baru kini ditempatkan layaknya seorang raja kecil yang tak boleh tersentuh sedikit pun. Mereka tumbuh subur dengan mentalitas kerupuk—tampak renyah di luar, namun gampang hancur berkeping-keping saat terkena sedikit saja tekanan atau gesekan sosial.

​Dampaknya di lapangan sangat memuakkan bagi dunia pendidikan. Hari ini, jangankan dipukul dengan penggaris kayu, seorang guru yang mencubit atau sekadar menegur siswa nakal dengan nada tinggi bisa langsung diviralkan oleh murid di media sosial. Tidak butuh waktu lama, orang tua yang tidak terima akan menggruduk sekolah dan melaporkan sang guru ke polisi dengan pasal penganiayaan anak di bawah umur.

​Akibat penegakan hukum kertas yang buta terhadap konteks pendewasaan ini, para guru akhirnya memilih bersikap apatis. Daripada emosi terkuras, nama baik tercoreng, dan karier hancur di balik jeruji besi, para pendidik memilih jalan aman: membiarkan saja kenakalan siswa di depan mata. Ketika guru dipaksa "masa bodoh" demi keselamatan diri sendiri, maka runtuhlah pilar utama pembentukan karakter bangsa.

​Filosofi Jalanan: Besi Harus Ditimpa, Bukan Dimanja

​Secara filosofis, mentalitas manusia itu persis seperti bongkahan besi kasar; ia wajib ditimpa secara konstan agar bisa menjelma menjadi sebilah pedang yang tajam dan fungsional. Besi tidak akan pernah jadi apa-apa jika hanya ditaruh di dalam ruangan ber-AC dan diusap dengan kain lembut. Begitu pula dengan mental anak sekolah. Jika sejak hari pertama menginjakkan kaki di sekolah mereka sudah disterilkan dari ketegangan lewat MPLS yang serba balon, badut, dan senyuman palsu, otot psikologis mereka akan lumpuh karena tidak pernah dilatih.

​Dunia nyata di luar gerbang sekolah tidak berjalan dengan logika kompromi atau aturan ramah anak. Di luar sana, dunia kerja, kompetisi bisnis, dan dinamika sosial berjalan dengan sangat kejam, penuh tekanan, target yang tidak masuk akal, dan persaingan yang tidak selalu adil. Kita saat ini sedang memproduksi massal "Generasi Stroberi"—generasi yang tampak indah dan kreatif di luar, namun langsung layu dan hancur saat menghadapi tekanan hidup yang sesungguhnya.

​Kesimpulan

​Menghapus kekerasan fisik yang destruktif dan tidak manusiawi dari sejarah MOS masa lalu adalah sebuah kemajuan hukum yang wajib kita dukung bersama. Namun, mengubah institusi sekolah menjadi tempat yang ketakutan untuk menegakkan kedisiplinan dan ketegasan adalah kemunduran mentalitas yang sangat fatal.

Selama sistem pendidikan kita terus memanjakan ego siswa dan mengkriminalisasi ketegasan guru, maka kekhawatiran bahwa MPLS Bentuk Mental Siswa Lemah akan terus menjadi kenyataan yang pahit di masa depan. Kita harus mengembalikan marwah ketegasan di sekolah, karena anak-anak kita butuh ditempa untuk menjadi pemimpin yang tangguh, bukan menjadi penonton yang rapuh di hadapan kerasnya realitas jalanan.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

📜 LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET

Komentar