Dua Wajah Reaksi Rakyat Iran Menanggapi Kematian Ali Khamenei
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
(Lead Analyst Sosiolegal.com & Founder KunciPro Research Institute)
SOSIOLEGAL – Serangan amunisi penghancur bunker (bunker-buster) yang meratakan kompleks Beit-e Rahbari di Teheran pada Sabtu (28/2/2026) tidak hanya mengakhiri hidup Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ledakan itu secara simbolis merobek selaput tipis yang selama ini menutupi perpecahan mendalam di tengah masyarakat Iran. Kini, dunia menyaksikan dua wajah rakyat Iran yang saling bertolak belakang: wajah yang bersimbah air mata duka di Lapangan Inkilap, dan wajah yang tertawa lega di balik jendela flat.
Jika rakyat Iran terbelah dalam menyikapi kematian pemimpinnya, lalu bagaimana seharusnya kita sebagai warga dunia ikut menyikapi. Apakah kita ikut turut bersedih dan berbelasungkawa ataukah ikut dalam ueforia kegembirian atas kekangan yang selama ini diterima oleh masyarakat iran?
Wajah Pertama: Ritual Duka dan Kesetiaan Ideologis
Di kota-kota suci seperti Qom dan Mashhad, pemandangan terlihat seperti protokol resmi rezim Syiah selama puluhan tahun terakhir. Bendera hitam berkibar, ribuan orang turun ke jalan, dan isak tangis pecah di bawah kubah emas Makam Imam Reza. Bagi kelompok loyalis ini, Khamenei adalah benteng terakhir melawan tekanan Barat.
Namun, laporan dari media nasional Kompas.com pada 1 Maret 2026 mengungkapkan sisi lain yang lebih kompleks. Mengutip laporan bertajuk "Respons Rakyat Iran atas Kematian Ali Khamenei", terungkap bahwa reaksi emosional masyarakat Iran sangatlah beragam. Di tengah kerumunan yang berkabung di Lapangan Inkilap Teheran sambil meneriakkan kecaman terhadap AS dan Israel, terdapat getaran lain yang bergerak di bawah tanah digital Iran.
Wajah Kedua: Katarsis di Balik Tembok Ketakutan
Kami menyoroti bagaimana media sosial menjadi panggung bagi katarsis rakyat yang selama ini dibungkam kekuasaan. Seorang warga Teheran bernama Farzad, sebagaimana dikutip dari laporan tersebut, menggambarkan suasana kota yang mendadak riuh: “Semuanya meledak sekaligus,” ujarnya. Fenomena warga yang keluar ke atap rumah dan jendela sambil berteriak adalah bentuk pelepasan dari tekanan "Protokol Moral" yang selama ini mengekang mereka.
Bahkan, emosi yang meledak ini digambarkan dengan sangat dramatis oleh pengguna platform X yang dikutip dalam laporan yang sama: “Saya menangis, tertawa, berteriak, dan merasakan setiap emosi di dunia dalam tiga detik.” Bagi kelompok ini, kematian Khamenei bukan sekadar hilangnya seorang pemimpin, melainkan tumbangnya simbol penderitaan atas tahun-tahun yang terbuang di penjara dan kehancuran ekonomi domestik.
| Aspek Perilaku | Wajah Pertama: Kelompok Loyalis (Duka) | Wajah Kedua: Kelompok Oposisi/Rakyat Kecil (Suka) |
|---|---|---|
| Ekspresi Publik | Turun ke jalan (Lapangan Inkilap), mengibarkan bendera hitam, dan meratapi kepergian "Syahid" pemimpin tertinggi. | Berteriak dari atap rumah, pesta kembang api sembunyi-sembunyi, dan meluapkan katarsis lewat media sosial (Starlink). |
| Sudut Pandang Hukum | Melihat Khamenei sebagai penjaga kedaulatan teokrasi dan hukum Tuhan melawan intervensi asing (AS/Israel). | Melihat rezim sebagai pelanggar HAM berat yang memberangus kebebasan sipil melalui "Protokol Moral" yang kaku. |
| Motivasi Emosional | Ketakutan akan hilangnya stabilitas dan ancaman invasi Barat pasca-kekosongan kekuasaan. | Harapan akan runtuhnya "Tembok Ketakutan" dan berakhirnya krisis ekonomi yang mencekik selama puluhan tahun. |
| Simbolisme | Khamenei sebagai bapak bangsa dan simbol perlawanan anti-imperialisme. | Khamenei sebagai "Algojo Harapan" yang mengorbankan masa depan pemuda demi ambisi nuklir dan proksi. |
Audit Sosiolegal: Runtuhnya Kontrak Sosial
Mengapa satu kematian memicu dua reaksi ekstrem? Di sinilah Tri Lukman Hakim, S.H. melihat adanya kegagalan kontrak sosial yang kronis. Dalam teori sosiologi hukum, legitimasi penguasa berdiri di atas kesejahteraan rakyat. Berdasarkan pantauan media, serangan bunker-buster tersebut juga menewaskan sejumlah anggota keluarga dekat Khamenei dan mengakibatkan ratusan korban jiwa lainnya. Tragedi ini menjadi puncak dari ketegangan antara kedaulatan negara dan kedaulatan individu yang sudah lama mendidih.
Wajah rakyat yang merayakan kematian pemimpinnya adalah bukti bahwa hukum di Iran telah kehilangan "jiwa" kemanusiaannya. Takhta Pemimpin Tertinggi yang kini kosong bukan hanya menyisakan krisis kepemimpinan bagi 88 anggota Majelis Ahli, tapi juga menjadi lonceng peringatan akan potensi perang saudara yang dipicu oleh dendam sejarah dan rasa haus akan kebebasan.
Narsisme Diplomasi dan Kebutaan Global
Di panggung internasional, narsisme diplomasi kembali dipertontonkan. Banyak negara lebih fokus pada pengisian kekosongan takhta demi stabilitas minyak. Mereka seolah buta pada fakta—seperti yang dilaporkan Anadolu Agency melalui Kompas—bahwa meski ribuan orang turun ke jalan untuk berduka di Teheran, jutaan lainnya mungkin sedang merencanakan masa depan tanpa bayang-bayang teokrasi yang kaku.
Perang masih belum berahir, sebagian boleh merayakan tapi jangan terlarut oleh kesenangan sesaat, karena belum bisa dipastikan bahwa penggantinya akan lebih baik dalam memberi kebebasan atas Hak Asasi Manusia. Teka-teki penggantinya masih terus di bahas dan tidak mungkin jika bukan dari garis keturunannya. Dan jika itu benar kesenangan hanya sebatas waktu yang sangat sebentar.
Kematian Khamenei harus menjadi pelajaran bagi para penguasa: Bahwa rasa takut rakyat memiliki batas kadaluarsa. Ketika batas itu terlampaui, kematian seorang pemimpin besar tidak akan lagi disikapi dengan tahlilan nasional secara utuh, melainkan dengan tawa pembebasan yang menggema di langit malam Teheran.

Komentar
Posting Komentar