​Bantengan Malang: Kesenian Lokal Sarat Hal Mistis

Ilustrasi gambar penari bantengan malang kalap mengejar penonton yang bersiul. By Sosiolegal

​Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

​Kesenian Bantengan di Malang Raya memiliki rekam jejak sejarah yang sangat panjang, bahkan akar tradisinya disinyalir sudah eksis sejak masa Kerajaan Singhasari. Namun, seiring dengan perkembangan zaman yang kian modern, minat, ekspektasi, dan cara pandang penonton terhadap seni pertunjukan ini mulai berubah total ke arah mistis.

​Bagi para pendatang baru atau wisatawan asing yang belum familier dengan budaya Malang, Jawa Timur, mereka sering kali mengajukan pertanyaan mendasar:

Apa itu bantengan?

Secara umum, kesenian ini adalah seni pertunjukan yang menampilkan atraksi tiruan kepala banteng dari kayu yang dimainkan oleh penari, berpadu dengan olah kanuragan atau pencak silat. Jika dulu kesenian ini murni dikenal sebagai ekspresi penolakan terhadap kolonialisme dan tarian taktis yang memukau, kini di era modern, daya tarik utamanya justru bergeser kuat ke arah mistis.

​Ketika masyarakat datang berbondong-bondong untuk menonton pertunjukan ini di lapangan desa, mereka tidak lagi membayangkan sebuah tarian tradisional yang anggun, tertib, dan biasa. Mereka datang demi menantikan satu hal yang memicu adrenalin: aksi bantengan kalap yang gila dan agresif dari para pelakonnya.

Ritual Pemanggilan Roh dan Filosofi di Baliknya

​Atmosfer mencekam di tepi lapangan justru menjadi magnet utama yang dicari oleh penonton. Suara gemerincing dari gelang kaki penari, dentuman pecutan sodo lanang yang membelah udara, serta aransemen musik gamelan yang intens berpadu dengan aroma sesaji dan bakaran kemenyan.

Semua kombinasi indrawi ini adalah bagian dari prosesi pemanggilan roh halus yang menjadi puncak acara paling dinantikan.

​Di balik kengerian atraksi tersebut, terdapat filosofi bantengan yang sangat mendalam bagi masyarakat agraris Jawa. Figur banteng atau lembu digambarkan sebagai simbol kekuatan rakyat, kejantanan, kebersamaan, dan pelindung kebajikan dari marabahaya.

Pertunjukan ini sejatinya menggambarkan pertarungan abadi antara kebajikan (yang disimbolkan oleh banteng) melawan nafsu angkara murka dan kelicikan (yang biasa disimbolkan melalui karakter macan atau kera).

​Namun, pergeseran fungsi dari ritual sakral menjadi tontonan hiburan massal membuat esensi tarian silatnya perlahan memudar.

Dampaknya, kesenian lokal yang dulunya bisa dinikmati secara ramah oleh semua kalangan—mulai dari anak-anak hingga kakek-nenek—kini secara alami mulai menyortir audiensnya sendiri. Pertunjukan hari ini hanya menyisakan ruang bagi para penonton yang benar-benar memiliki keberanian tinggi, tidak takut kalap dan kerasukan masal.

Fase Kalap: Seni yang Berubah Menjadi Arena Kejar-Kejaran

​Pergeseran ini bukan tanpa alasan di lapangan. Ketika puncak acara tiba dan momen bantengan kerasukan roh atau jin mulai terjadi, riuh suara siulan dari anak-anak muda akan langsung meramaikan arena. Di dalam pakem dunia per-mberot-an di Malang, suara siulan tersebut diartikan sebagai sebuah ejekan atau tantangan langsung kepada entitas gaib yang ada di dalam topeng.

​Begitu mendengar siulan tersebut, para penari yang sudah berada di bawah pengaruh mistis dan kehilangan kendali diri sepenuhnya akan langsung menjadi bantengan kalap. Mereka akan memburu dengan membabi buta siapa saja yang suaranya berhasil mereka tandai di tengah kerumunan massa.

​Seketika itu juga, panggung kesenian yang damai berubah menjadi arena kejar-kejaran yang sangat menegangkan. Risiko fisik di lapangan pun sangat nyata; jika sampai target tersebut tertangkap, penonton yang nekat bersiul itu sangat rawan untuk dihantam menggunakan kepala banteng kayu yang berbobot berat.

Alhasil, barisan bocil mania kini hanya bisa menonton dari jarak yang sangat jauh di atas pagar atau pohon karena takut ikut terkejar oleh penari yang sedang mengamuk.

Fenomena Bantengan Kerasukan: Asli atau Sekadar Setingan?

​Bagi penonton yang skeptis, tidak mempercayai hal-hal mistis, atau mungkin para pendatang baru di Malang Raya, fenomena ini tentu memicu tanda tanya besar di kepala mereka.

Mereka sering kali bingung setelah membaca penjelasan mengenai apa itu bantengan, lalu melihat realita bahwa sebuah acara kesenian justru bisa mengancam keselamatan penontonnya sendiri hingga harus mengejar mereka keluar dari arena pertunjukan menuju gang-gang sempit pemukiman warga.

​Apakah fenomena bantengan kalap ini murni asli karena intervensi makhluk gaib atau sekadar koreografi dan setingan panggung yang rapi? Kita tidak akan pernah bisa menerka-nerka dengan satu jawaban mutlak yang objektif.

​Sebab, jawaban atas pertanyaan tersebut kembali pada sudut pandang yang sangat subjektif. Pengalaman personal, latar belakang budaya, serta tingkat sensitivitas setiap orang saat menyaksikan langsung bagaimana ngerinya filosofi bantengan modern ini dipentaskan akan selalu berbeda-beda dalam menyikapi fenomena magis lokal tersebut.

Kesimpulan

​Menjaga eksistensi Bantengan Malang berarti berani merawat sebuah warisan budaya yang hidup di batas tipis antara seni fisik dan dimensi spiritual mistis. Bagi masyarakat Malang, mberot adalah identitas, tempat di mana hiburan rakyat, ketegangan fisik, dan sisa-sisa kekuatan mistis leluhur melebur menjadi satu pertunjukan paling otentik yang tidak akan bisa ditemukan di belahan dunia lain.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

📜 LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET

Komentar