Runtuhnya Soeharto 98: Mitos Kemenangan Demo Mahasiswa

Ilustrasi pidato pengumuman runtuhnya presiden soeharto pada tahun 1998. By Sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

Kemenangan gerakan mahasiswa tahun 1998 adalah delusi kolektif terbesar yang dirawat dalam sejarah modern Indonesia. Buku sekolah dan narasi aktivisme jalanan selalu mencekoki kita dengan dongeng romantis yang sama: bahwa Mahasiswa dan elemen masyarakat di jalanan serta pendudukan gedung DPR berhasil menumbangkan kediktatoran Orde Baru.

Narasi ini dielu-elukan bagai jimat suaka, membuat generasi muda hari ini mempunyai hobi demonstrasi dan rajin melempar kritik di media sosial demi mengharapkan hal yang serupa.

Namun mari kita tampar kesadaran kita dengan realitas politik yang dingin: demo penolakan Makan Bergizi Gratis (MBG), Kopedes Merah Putih, Kenaikan BBM seseram apa pun dari bakar ban bekas sampai bakar kemenyan tidak akan pernah bisa membatalkan regulasi atau meruntuhkan rezim hari ini.

Karena sejarah jujur mencatat bahwa Soeharto runtuh bukan karena kalah oleh tekanan demonstrasi mahasiswa, melainkan karena kehabisan energi biologis akibat usia tua dan rontoknya sistem pertahanan internalnya sendiri.

​Mengevaluasi gerakan 1998 sebagai tolak ukur murni aksi massa adalah bentuk naivitas sosiologis yang akut.

Kita harus berani melihat angka biologis yang mutlak: ketika menyatakan berhenti pada 21 Mei 1998, Soeharto sudah menginjak usia 76 tahun 11 bulan—nyaris 77 tahun. Secara sains medis, usia menjelang kepala delapan adalah fase di mana fungsi kognitif, daya pikir, dan ketahanan fisik manusia mengalami penurunan drastis.

Ketika seorang diktator yang memegang kendali absolut selama 32 tahun mulai ringkih secara biologis, ia akan melambat dalam merespons situasi darurat dan rentan mengalami kejenuhan informasi (information overload) akibat stres tingkat tinggi.

Ditambah hantaman krisis moneter yang membuat Rupiah terjun bebas dari Rp2.500 ke Rp15.000 per Dolar AS, fondasi ekonomi Orde Baru sebenarnya sudah mati pucuk dari dalam sebelum mahasiswa merapatkan barisan ke Jakarta.

​Logika Lingkaran Kekuasaan: Soliditas Komando vs Pembangkangan Internal Soeharto

​Dalam sosiologi politik, stabilitas sebuah rezim tidak ditentukan oleh seberapa keras suara arus bawah menggonggong, melainkan oleh seberapa solid loyalitas di lingkaran ring-1 kekuasaan.

Sejarah membuktikan bahwa selama komando tertinggi masih prima, faksi militer, birokrat, teknokrat, hingga taipan sekutu akan tetap berdiri tegak mengawal penguasa. Lihat saja kokohnya Orde Baru di dekade ’70-an dan ’80-an.

Pada masa keemasan tersebut, riak-riak penolakan dan aksi protes berskala besar juga terjadi, namun semuanya berhasil diredam tanpa bekas dengan tangan besi. Mengapa? Karena cengkeraman sang jenderal masih sangat bugar secara fisik maupun psikologis, membuat tidak ada satu pun elite yang berani melirik kiri-kanan untuk membelot.

​Namun, sekumpulan elite politik di sekeliling penguasa itu ibarat kawanan serigala; mereka tidak pernah setia pada ideologi atau figur, melainkan hanya setia pada keselamatan fasilitas, kapital, dan jabatan mereka sendiri. Ketika penciuman politik mereka mendeteksi bahwa sang pemimpin di usia 77 tahun sudah kehilangan taring biologisnya untuk mencengkeram sistem, rasa takut para elite ini runtuh seketika.

​Begitu melihat Seoharto mulai pikun menghadapi krisis ekonomi yang parah, insting pertama mereka adalah masuk ke mode bertahan hidup (survival mode) untuk mencari pegangan baru dan sekoci masing-masing.

Pembangkangan massal internal berupa mogok kerjanya 14 menteri bidang ekonomi di bawah koordinasi Ginanjar Kartasasmita adalah bukti nyata dari aksi balik badan kolektif (the ultimate betrayal) tersebut. Soeharto mundur karena menyadari benteng kekuasaannya sudah kosong melongpong ditinggalkan orang-orang dalamnya sendiri, bukan karena ngeri melihat barikade massa di luar pagar.

​Mengapa Demo dan Kritik Hari Ini Hanya Menjadi Ritual Sia-Sia?

​Mitos runtuhnya Soeharto yang telanjur dibungkus sebagai kemenangan demo mahasiswa akhirnya melahirkan kegagalan kalkulasi struktural bagi gerakan rakyat zaman sekarang. Hari ini, situasi politik berada di titik yang sama sekali berbeda: rezim berada dalam kondisi yang sangat prima.

Koalisi gemuk mengunci parlemen, oposisi formal punah, instrumen hukum dipegang penuh, dan ekosistem digital dikendalikan secara sistematis. Dalam lanskap kekuasaan sesolid ini, berharap kebijakan kenaikan BBM berubah atau program nasional MBG dan Kopdes Merah Putih dievaluasi hanya dengan modal spanduk dan yel-yel musiman adalah sebuah kesia-siaan belaka.

​Ketika negara hari ini memfasilitasi demo—memberikan izin aksi, mengamankan jalur lalu lintas, hingga mengawal massa dengan barikade polisi—itu bukan tanda bahwa negara demokratis dan bersiap mendengar suara Anda.

Fasilitasi tersebut tidak lain hanyalah sebuah fatamorgana buatan untuk membiarkan rakyat membuang gas emosinya agar tidak memicu ledakan sosial yang destruktif. Negara membiarkan Anda berteriak sampai serak di depan pagar kawat berduri, membiarkan Anda pulang dengan lelah dan puas seolah-olah sudah berjuang, sementara di dalam ruangan ber-AC yang nyaman, para pengambil kebijakan tetap mengetok palu regulasi tanpa menggeser satu klausul pun.

​Selama sebuah program negara ingin dijalankan demi kepentingan akumulasi kapital atau agenda strategis kelompok penguasa, setiap bentuk penolakan dari masyarakat bawah tidak akan pernah diposisikan sebagai kritik konstruktif.

Sebaliknya, gerakan penolakan tersebut akan langsung dicap dengan narasi pejoratif: sebagai perusak fasilitas, kelompok yang anti-kemajuan, anarkis, atau penghambat program strategis nasional seperti di Papua tentang Film dokumenter pesta babi. Pejabat tahu betul bahwa memori publik di era digital sangat pendek; mereka cukup tiarap atau pasang muka tembok selama dua minggu, lalu isu tersebut akan tenggelam digantikan tren baru di media sosial.

​Kesimpulan: Merawat Sisa-Sisa Akal Sehat di Era Pasrah

​Esensi dari analisis sejarah yang berbeda ini adalah pengakuan bahwa kafilah kekuasaan akan tetap berlalu dengan angkuh selama roda-roda politiknya masih terkunci rapat dari dalam.

Jika ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari tahun 1998, itu adalah: penguasa baru akan berhenti berjalan ketika mereka sudah kelelahan secara biologis karena usia tua, atau ketika sistem internalnya dipreteli oleh penumpang di dalamnya sendiri demi menyelamatkan diri masing-masing.

​Maka, fungsi kritik dan suara arus bawah hari ini bukan lagi ditujukan untuk menjatuhkan rezim atau memaksa pemerintah mengevaluasi diri—karena itu adalah ekspektasi yang terlalu naif di hadapan rezim yang sedang kuat-kuatnya.

Tugas utama dari penulisan kritis dan perlawanan opini saat ini hanyalah untuk satu hal: merawat sisa-sisa akal sehat masyarakat bawah. Suara kritis diperlukan agar di era digital yang penuh dengan jurnalisme pesanan ini, rakyat tidak mudah dibodohi secara massal oleh narasi kemajuan palsu, dan tetap sadar bahwa mereka sedang berjalan menuju jurang, bahkan ketika penguasa menyebutnya sebagai jalur masa depan.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

๐Ÿ“œ LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET

Komentar