Rupiah Lemah, Berkah Bagi Turis & Diaspora Tukar Mata Uang Asing
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)
Rupiah Melemah Berkah Tersendiri Bagi Turis & Diaspora
Dari pantauan digital tidak ada tanda-tanda rupiah akan menguat, justru sebaliknya yang menyentuh angka Rp18.150 per dolar AS.
Bagi masyarakat dalam negeri tentu ini sangat berdampak dalam hal jual beli yang semakin mahal karena mengikuti dolar AS.
Rakyat mulai teriak inflasi, tapi komentar di Istana justru seakan tenang dengan menanggapi hal ini masih batas wajar dan tidak terpengaruh pada ekonomi Indonesia.
Terlepas dari panggung drama politikal, masyarakat dalam negeri merasakan dampak nyata, namun berbeda dengan diaspora yang justru mendapat berkah karena nilai tukar dolar tinggi mengirim ke kampung halaman terasa lebih banyak walau dengan nominal yang sama.
Itu berlaku bagi diaspora yang mempunyai pekerjaan tetap, berbeda dengan mahasiswa atau pelajar yang masih bergantung pada kiriman dari kampung halaman yang dapat membebani nilai transfer keluarga untuk kehidupan di luar negeri.
Indonesia masih belum kuat sepenuhnya dengan rupiah, kita terlalu bergantung pada tren global, tidak ada kemandirian ekonomi yang dapat dengan mudah ditekan atau dipermainkan dengan suku bunga Bank Amerika (The Fed).
Dalam pengamatan digital, terjadi lonjakan turis yang datang ke Indonesia.
Entah bisa disyukuri atau justru miris melihat mereka belanja seakan dapat diskon besar-besaran, terutama di daerah Batam, Kepulauan Riau, yang masuk ke dalam Kawasan Perdagangan Bebas (FTZ).
Di setiap musibah ada berkah, ada hikmah di baliknya, namun yang merasakan berkah justru warga luar negeri, turis, dan sebagian diaspora.
Bagaimana dengan warga Indonesia?
Hidup ini sulit ditambah menjalani hidup di Indonesia maka kesulitannya dua kali lipat, kata netizen.
Pernyataan ini tidak salah, ini bentuk keresahan dan kehilangan kepercayaan pada pemerintah.
Jika masyarakatnya saja tidak percaya bagaimana meyakinkan investor untuk tetap menanam saham di sini?
Di tengah krisis ini pemerintah tidak boleh menggelontorkan dana untuk hal yang tidak pasti.
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) tidak bisa diberantas ke akar-akarnya, belum lagi judi online (judol) yang bertebaran di internet menghisap sisa-sisa uang rakyat kecil.
Secara sosiologi hukum, retorika penenang dari pihak otoritas yang menyebut pelemahan ini "aman" justru menciptakan jurang pemisah (gap) yang makin lebar antara realitas hukum kebijakan dengan realitas sosial di pasar tradisional.
Ketika harga bahan pokok yang mengandalkan bahan baku impor mulai merangkak naik, regulasi pengendalian harga seringkali mandul di lapangan.
Jeritan masyarakat bawah bukan sekadar angka statistik inflasi di atas kertas, melainkan perjuangan harian untuk bertahan hidup. Kehilangan daya beli domestik adalah alarm keras bahwa fondasi ekonomi kita rapuh secara struktural.
Di sisi lain, fenomena berkah musiman yang dinikmati sebagian diaspora profesional memperlihatkan ketimpangan global yang nyata.
Bagi diaspora di Amerika, Singapura, China atau Eropa yang digaji dengan mata uang kuat, pelemahan Rupiah adalah masa keemasan untuk melakukan "penyelamatan" finansial keluarga di Indonesia melalui pengiriman remitansi.
Aliran dana segar ini sekilas membantu likuiditas di tingkat keluarga, namun dari sudut pandang makro, ini adalah obat pereda nyeri sementara, bukan kesembuhan struktural bagi ekonomi nasional yang sedang demam tinggi.
Ironisnya, sektor pariwisata yang digadang-gadang menjadi penyelamat devisa justru mempertontonkan pemandangan yang miris.
Lonjakan turis asing di Batam dan daerah destinasi lainnya terjadi bukan karena peningkatan kualitas layanan atau nilai tawar pariwisata kita, melainkan karena jatuhnya harga diri mata uang kita.
Mereka berbondong-bondong datang untuk mengeksploitasi daya beli mereka yang tiba-tiba berlipat ganda di tanah air.
Eksploitasi ekonomi berbalut liburan murah ini semakin menyakitkan ketika daerah seperti Batam yang memiliki keistimewaan regulasi justru menjadi surga belanja bagi asing, sementara warga lokal harus gigit jari menghadapi lonjakan harga barang pokok sehari-hari.
Krisis kepercayaan publik atau distrust terhadap pemerintah adalah dampak sosiologis paling berbahaya dari situasi ini.
Ketika lingkaran kekuasaan sibuk dengan agenda politik dan abai terhadap penegakan hukum substantif—seperti kegagalan memberantas judi online yang merusak struktur ekonomi keluarga miskin serta lingkaran setan KKN yang tak kunjung usai—maka legitimasi hukum ekonomi akan runtuh.
Investor asing tidak hanya melihat angka stabilitas makro, mereka membaca stabilitas sosial dan kepastian hukum.
Jika penegakan hukum domestik saja compang-camping dan rakyatnya sudah apatis, maka jargon "Indonesia ramah investasi" hanya akan menjadi slogan kosong di tengah badai depresiasi mata uang.
Penutup Keresahan: Rupiah dalam Cengkeraman Global
Rupiah lemah memang menjadi berkah tersendiri bagi turis dan diaspora dalam menukar mata uang asing. Namun bagi mayoritas rakyat yang hidup dan mencari makan di atas tanah air, fenomena ini adalah siklus horor yang terus berulang tanpa solusi konkret.
Dalam sejarah Indonesia, rupiah tidak akan pernah kuat bertahan lama terhadap Dolar AS.
Entah ini konspirasi global untuk menunjukkan bahwa Indonesia jangan macam-macam dalam urusan geopolitik dunia; sebuah pesan implisit yang seolah berbunyi:
Rupiah kami tekan, bangsa anda pasti kelimpungan.
Fakta digital hari ini pun menunjukkan hal yang lebih miris: kelemahan kita tidak lagi hanya di hadapan Dolar AS, melainkan juga terhadap Yuan Tiongkok.
Nilai 6,77 Yuan saja kini sudah setara dengan Rp18.170, membuktikan bahwa narasi ketergantungan kita terhadap pasokan global sudah berada di titik nadir yang sangat berbahaya.
Selama kemandirian ekonomi dan struktur hukum domestik kita masih bisa dipermainkan dengan mudah oleh sentimen luar negeri—mulai dari naik-turunnya suku bunga Bank Sentral Amerika hingga dominasi perdagangan Tiongkok—maka kedaulatan ekonomi Indonesia hanyalah ilusi di atas kertas.
Berkah yang dinikmati oleh segelintir turis asing dan diaspora pada akhirnya menjadi pengingat pahit, bahwa rumah bernama Indonesia ini sedang tidak baik-baik saja bagi pemilik aslinya.
Pemerintah tidak bisa lagi sekadar berakting tenang di panggung politik; mereka harus segera membenahi fundamental ekonomi dan penegakan hukum substantif, sebelum kepercayaan publik dan daya beli rakyat benar-benar runtuh tak tersisa.

Komentar
Posting Komentar