Dulu Drakor Sekarang Drama Cina Yang Buat Ketagihan
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Founder KunciPro Research | Peneliti Socio-Legal & Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)
Fenomena pergeseran selera hiburan digital di Indonesia kini tengah mengalami transisi sosiologis yang sangat dinamis. Genre tontonan masyarakat urban maupun sub-urban kini tidak lagi didominasi oleh romansa melankolis yang dipopulerkan oleh gelombang Drama Korea (Hallyu), melainkan mulai beralih secara masif ke narasi asal Tiongkok drama China.
Banyak netizen yang mulai menyadari perubahan ini, bahkan secara mandiri meneliti dan mencari tahu di mesin pencari mengenai apa sebetulnya dampak drama cina terhadap pola produktivitas harian mereka. Rasa ketagihan drama china ini pada akhirnya memicu pertanyaan mendasar yang menarik bagi para pengamat sosial mengenai aspek psikologi kelompok di Indonesia.
Mengapa masyarakat kita begitu mudah terikat pada formula visual baru yang disajikan secara berulang ini? Atau justru andalah pecandu dracin saat ini? Guna memahaminya secara utuh, kita perlu membedah secara radikal mengenai bedanya drama china dan drama korea dari kacamata mentalitas kolektif masyarakat domestik.
Bedanya Drama Cina dan Drama Korea: Dari Melankolis ke Pembuktian Kelas
Untuk memahami mengapa terjadi migrasi penonton secara besar-besaran dalam lanskap hiburan kita, kita harus melihat karakteristik fundamental dari kedua produk budaya tersebut. Drama Korea (Drakor) secara umum dikenal sangat kuat dalam membangun narasi romansa yang melankolis, penuh estetika, namun sering kali memiliki pengembangan alur yang lambat dan berbelit-belit.
Perjuangan kelas atau konflik ekonomi dalam Drakor umumnya digambarkan secara realistis, penuh air mata, dan tidak jarang berakhir tragis atau menggantung (sad/open ending). Bagi sebagian masyarakat Indonesia yang memiliki ritme hidup dinamis atau mereka yang sedang mencari hiburan instan pelepas penat, formula melankolis ini lambat laun mulai terasa melelahkan secara mental.
Penonton yang cenderung barbar, menyukai konflik lugas, dan tidak menyukai drama bertele-tele kini mulai meninggalkan Drakor secara perlahan dan mengalihkan perhatian mereka demi mengejar ketegangan di dalam Drama Cina (Dracin).
Sebaliknya, Dracin hadir dengan menawarkan anatomi hiburan yang sangat kontras. Alur ceritanya tidak berfokus pada dinamika percintaan yang penuh dilema emosional, melainkan berpusat pada pembuktian kesuksesan finansial, pembalasan dendam struktural, dan pengakuan mutlak atas status sosial seseorang. Format yang cepat dan penuh kejutan instan inilah yang rupanya jauh lebih efektif dalam memicu rasa ketagihan karena menyentuh sisi psikologis terdalam dari penonton Indonesia.
Empat Pilar Formula Dracin yang Memikat Mentalitas Indonesia
Secara sosiologis, ada alasan struktural mengapa pola cerita Dracin terasa begitu adiktif bagi masyarakat kita. Disamping dracin mudah ditemukan di youtube, durasi tonton yang tidak panjang juga berpengaruh. Formula narasi mereka bekerja melalui empat pilar utama yang terus direproduksi di hampir setiap judul:
- Manipulasi Status Posisi (Pura-Pura Miskin): Skenario penyamaran adalah menu wajib yang mutlak ada. Tokoh utama kerap diposisikan sebagai rakyat jelata, menantu yang tertindas, atau pekerja rendahan, padahal identitas aslinya adalah seorang CEO kaya raya, Dewa Judi yang tak terkalahkan, Dewa Perang berkekuatan masif, atau bahkan kaisar modern.
- Reinkarnasi dan Keunggulan Pengetahuan (Regresi Waktu): Narasi fantasi di mana tokoh utama kembali ke masa lalu atau masuk ke dalam tubuh individu kelas bawah yang miskin dan tak berdaya. Ia kemudian menggunakan pengetahuan modern, taktik bisnis abad ke-21, atau ilmu medis masa kini untuk mendominasi lingkungan barunya secara instan dan meraih kekayaan kilat.
- Kondisi Awal yang Diremehkan secara Ekstrem: Tokoh utama selalu ditempatkan pada titik terendah dalam stratifikasi sosial. Ia dihina secara verbal, diinjak-injak harga dirinya oleh keluarga besar, lingkungan sekitar, atau mitra bisnisnya sebelum akhirnya melakukan pembuktian besar yang meruntuhkan kesombongan tersebut.
- Orientasi Kesuksesan Mutlak Tanpa Bertele-tele: Fokus utama dari jalannya cerita bukanlah romantisme atau jalinan cinta yang mendalam, melainkan bagaimana tokoh tersebut berhasil membalikkan keadaan, menguasai aset finansial, dan membuktikan bahwa dia sukses, berkuasa, serta mampu membuat para penghinanya berlutut memohon maaf.
Refleksi Sosiologis: Mengapa Masyarakat Kita Sangat Terikat?
Mengapa pola-pola yang cenderung repetitif di atas justru sangat digemari dan laku keras di Indonesia? Jawabannya terletak pada kondisi sosio-ekonomi dan struktur psikologis masyarakat kita sendiri.
Secara kultural, masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan historis yang kuat untuk menaruh simpati pada figur underdog—yaitu pihak yang tertindas, lemah, atau diremehkan oleh penguasa atau kelompok borjuis. Ada kepuasan batin (katarsis sosial) yang luar biasa bagi penonton ketika melihat seseorang yang awalnya dihina habis-habisan, ternyata membuka kedoknya dan menunjukkan identitas asli yang jauh lebih hebat serta kaya raya dari para penghinanya.
Lebih jauh lagi, fenomena ini merefleksikan adanya impian kolektif yang terpendam di tengah sulitnya mobilitas vertikal di dunia nyata. Tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, dan rumitnya menaikkan kelas sosial secara riil membuat penonton memproyeksikan harapan-harapan frustrasi mereka ke dalam layar kaca gawai.
Akibatnya, muncul sebuah fantasi sosial yang unik di tengah masyarakat: sebuah harapan tersembunyi bahwa orang terdekat di sekitar mereka, suami, orang tua atau mertua mereka sendiri—sebenarnya adalah seorang CEO atau figur berkuasa yang sedang menyamar dan siap mengubah nasib mereka secara instan dalam semalam. Dracin tidak sedang menjual drama cinta; mereka sedang menjual obat penenang berupa fantasi kekuasaan absolut atas ketidakberdayaan ekonomi penontonnya.
Kesimpulan
Pergeseran tren dari Drakor ke Dracin di Indonesia adalah bukti nyata bagaimana industri hiburan global mampu membaca celah dan kerapuhan psikologis massa secara presisi. Ketagihan drama cina bukan sekadar urusan durasi tontonan atau kualitas sinematografi yang menghibur, melainkan sebuah bentuk pelarian sosial dari realitas harian yang melelahkan dan penuh tekanan kompetisi.
Memahami bedanya drama cina dan drama korea membantu kita melihat bahwa selera pasar akan selalu bergerak dinamis mengikuti kebutuhan emosional masyarakatnya. Selama realitas sosial di dunia nyata masih penuh dengan sekat-sekat kelas yang kaku dan ketidakadilan ekonomi, maka narasi pembuktian instan dan pembalasan dendam ala Dracin akan tetap menjadi komoditas hiburan nomor satu yang paling dicari oleh netizen Indonesia.

Komentar
Posting Komentar