Pembenci Islam Mayoritas SDM Rendah Pengejar View
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Founder KunciPro Research | Peneliti Socio-Legal & Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)
Jika Anda meluangkan waktu sejenak untuk menelusuri beranda media sosial seperti Facebook, Instagram atau TikTok belakangan ini, ada sebuah pemandangan yang sangat menggelitik logika. Berbagai akun mendadak rajin mengunggah konten strip komik berbasis kecerdasan buatan (generative AI). Isinya tidak jauh dari narasi yang menyudutkan, mendiskreditkan, atau menyenggol ajaran Islam secara terselubung.
Ungkapan bahwa pembenci Islam mayoritas SDM rendah pengejar view ini bukan isapan jempol belaka. Ada penurunan kualitas intelektual yang sangat drastis jika kita membandingkan para pengkritik zaman dulu dengan para pegiat pembenci Islam di era algoritma media sosial saat ini.
Kemunduran Intelektual: Dari Riset Tekstual ke Potongan Konten Instan
Dulu, para orientalis atau kritikus yang ingin mencari kelemahan Islam akan meluangkan waktu bertahun-tahun untuk membaca, membedah, dan mempelajari Al-Qur'an serta ribuan hadis yang sangat banyak. Meskipun tujuannya sama-sama mencari celah, mereka setidaknya bermodal metodologi, waktu riset yang panjang, dan literasi yang kuat.
Namun sekarang, para pegiat pembenci Islam di media sosial hanyalah orang-orang malas yang membaca bagian kecil dari potongan video atau teks tanpa pernah mau memahami Islam secara keseluruhan. Bayangkan saja, para pembuat konten gambar AI yang belakangan ini sangat digemari netizen, menggunakan visual instan untuk melontarkan satire dan sindiran yang sama sekali tidak berdasar. Fenomena ini menjadi bukti nyata murninya kualitas SDM yang sangat rendah di balik akun-akun pencari views tersebut.
Mereka mengolok-olok sosok Nabi Muhammad dengan narasi usang yang diulang-ulang, seperti tuduhan doyan kawin, pedofil, tidak punya mukjizat, hingga suka berperang, tanpa pernah tahu, atau bahkan tidak mau tahu, apa esensi sejati dari kenabian. Mereka juga gemar melakukan generalisasi murahan, seperti menyindir orang Islam yang sangat benci makan babi tapi doyan korupsi. Bahkan, mereka dengan mentah mengejek riwayat tentang minum air kencing unta tanpa pernah mempelajari konteks sejarah dan asbabun nuzulnya.
Kekonyolan Bias Anakronisme: Menghakimi Masa Lalu dengan Kacamata Modern
Tragedi logika terbesar dari para pembuat komik AI kontroversial ini adalah kegagalan mereka dalam memahami konsep ruang dan waktu. Mereka menggunakan standar nilai manusia zaman modern yang hidup dengan kenyamanan teknologi, hukum sipil abad ke-21, dan fasilitas listrik, untuk menghakimi tatanan kehidupan ribuan tahun lalu yang secara sosio-kultural jauh berbeda.
Ini adalah bias anakronisme yang akut. Menilai keputusan militer, pernikahan politik, atau metode pengobatan herbal zaman nabi menggunakan kacamata kehidupan manusia urban tahun 2026 adalah sebuah kecacatan berpikir ilmiah.
Jangankan ribuan tahun lalu, melihat cara hidup manusia seratus tahun lalu saja sudah banyak hal yang tidak relevan dengan standar hari ini. Kebebalan untuk tidak mau memahami konteks sejarah inilah yang menjadi indikator utama mengapa kualitas intelektual mereka berada di standar yang sangat rendah. Mereka hanya butuh narasi yang terdengar keren di permukaan agar kontennya diklik.
Logika Jungkir Balik: Bersekutu dengan Setan Demi Konten
Puncak komedi sekaligus ironi dari konten ini terlihat ketika mereka mulai menyentuh ranah teologi spiritual. Entah karena terlalu benci atau kehabisan bahan, mereka seolah berteman dengan setan, bersekutu dengannya, sampai membela iblis secara membabi buta di dalam visual komik mereka.
Dalam narasi komik yang mereka buat, sering kali digambarkan bahwa setan tidak pernah menggoda manusia untuk melakukan kejahatan, karena manusianya sendiri yang sudah jahat. Mereka membuat narasi menggelikan: Jangan memfitnah setan, karena setan pun kalah bejat dari perbuatan manusia.
Di sinilah letak kebodohan struktural mereka. Tanpa berpikir panjang, mereka lupa bahwa dalam konsep teologi semua agama samawi, tugas utama setan itu hanya satu, yaitu menyesatkan manusia dari jalan kebenaran.
Bagaimana mungkin setan bisa mangkir dari tugas utamanya dan mengklaim bahwa manusia bertindak sendiri tanpa ada godaan? Fakta teologisnya, tidak ada kejahatan kecil maupun besar di dunia ini yang luput dari campur tangan dan bisikan setan, karena dia adalah musuh yang nyata bagi umat manusia sejak awal penciptaan.
Pertanyaan besarnya: kenapa para pembuat konten ber-SDM rendah ini sampai rela bersekutu dengan musuh abadi manusia hanya demi menjatuhkan kalangannya sendiri? Jawabannya sederhana: demi views, interaksi, dan cuan digital dari kapitalisasi kebencian.
Kesimpulan: Matikan Panggung Para Pemburu Algoritma
Melihat fakta struktural ini, cara terbaik untuk menghadapi para pembenci Islam pengejar views ini bukanlah dengan meladeni perdebatan kusir di lapak komik mereka. Meladeni mereka di kolom komentar, meskipun dengan niat meluruskan argumen, justru merupakan tindakan naif yang membantu menaikkan rating dan pendapatan mereka di mata algoritma media sosial.
Sudah saatnya kita berhenti menjadi bahan bakar bagi bisnis manipulasi emosi ini. Kelompok ber-SDM rendah ini hanya bisa hidup jika diberi panggung berupa perhatian dan amarah.
Cara paling mematikan untuk membunuh pergerakan akun-akun pemburu views ini adalah dengan mengabaikannya secara total (starve the troll), melaporkannya (report) secara massal, dan fokus membangun kesadaran literasi yang lebih sehat melalui platform seperti Sosiolegal. Jangan biarkan kesucian agama kita dijadikan alat monetisasi murah oleh para pembuat konten instan yang miskin kreativitas dan nalar.

Komentar
Posting Komentar