Latah Ubi Bombing Prabowo: Tepung Dapur Bisa Meledak?

Bahaya sumbu pendek masyarakat menyamakan tepung rumahan dengan ubi bombing Prabowo. By Sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

​Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

​Beredar luas di media sosial tanggapan latah, sinis hingga cemoohan masyarakat mengenai arahan Presiden Prabowo Subianto terkait uji coba tepung ubi bombing untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berbagai platform digital, mulai dari TikTok, Instagram, Threads hingga X (Twitter), mendadak diramaikan oleh narasi yang menyamakan inovasi pemadam api tersebut dengan tepung masakan.

Bahkan, beberapa konten memperlihatkan aksi nekat warga yang mencoba memadamkan api menggunakan tepung terigu atau tapioka olahan rumah.

​Fenomena ini membuktikan betapa daruratnya literasi digital dan budaya konsumsi informasi di Indonesia saat ini. Masyarakat cenderung menelan mentah-mentah judul berita (headline culture) tanpa mau mengklik dan membaca isi artikel secara utuh.

​Lantas, apa sebenarnya inovasi tepung ubi bombing yang direncanakan untuk produksi massal tersebut? Mengapa menyamakan racikan khusus ini dengan tepung dapur bukan hanya bentuk kekeliruan logika, melainkan juga tindakan yang sangat berbahaya secara sains?

​Bahaya Malas Baca: Mengapa Tepung Dapur Justru Memicu Ledakan?

​Sebelum membedah kandungan teknis inovasi pemadam karhutla tersebut, publik perlu memahami satu prinsip dasar fisika dan kimia pembakaran.

Pantangan besar menyiramkan tepung dapur biasa ke atas sumber api terbuka.

​Di dalam dunia sains dan keselamatan kebakaran, dikenal istilah Dust Explosion atau Ledakan Debu.

Tepung terigu, tapioka, gandum, maupun tepung beras olahan rumah merupakan bahan organik padat yang kaya akan karbohidrat. Ketika tepung dapur ini dilempar atau disemprotkan ke udara di dekat kobaran api, partikel-partikel debunya akan melayang dan terdispersi secara merata.

​Rasio luas permukaan partikel debu halus yang sangat tinggi bertemu dengan oksigen dan sumber panas secara eksponensial. Hasilnya?

Bukannya padam, kobaran api justru akan menyambar seluruh partikel tepung melayang tersebut hingga memicu ledakan bola api (fireball) yang berisiko merusak bangunan dan membahayakan keselamatan jiwa.

​Atas dasar sains inilah, narasi nekat memadamkan api pakai tapioka dapur yang viral di media sosial adalah bentuk latah kebodohan massal yang wajib dihentikan.

​Bukan Tepung Dapur: Mengenal Rahasia Formulasi Ubi Bombing

​Lalu, apa sebenarnya wujud zat pemadam yang dipaparkan di hadapan Presiden Prabowo Subianto?

​Tepung yang direncanakan untuk uji coba dan produksi massal ini sama sekali bukan tepung tapioka atau terigu gorengan yang dijual di warung kelontong dekat rumah.

  • Hasil Riset Mandiri Akar Rumput: Inovasi ini merupakan temuan murni dari seorang anggota Babinsa di Lubuklinggau, Sumatra Selatan. Ini adalah racikan khusus hasil eksperimen panjang di lapangan untuk mengatasi karakter kebakaran hutan Sumatra yang sulit dipadamkan.
  • Bukan Bahan Makanan (Bahan Kimia Khusus): Wujud fisiknya memang berupa serbuk atau ekstrak halus, namun formulasinya dirancang khusus sebagai dry chemical powder atau zat fire retardant berbasis pemanfaatan pati umbi-umbian (singkong/ubi).
  • Ekstraksi Pati untuk Pengikat Kimia: Dalam dunia industri pemadam kebakaran modern, senyawa alami berbasis pati (starch-based retardant) memang sering diteliti karena sifat molekulnya yang efektif mengikat air, merekatkan partikel, serta membentuk lapisan isolator alami terhadap panas.

​Cara Kerja Tepung Ubi Pemadam Karhutla (Sains di Balik Inovasi)

​Berbeda dengan air biasa yang gampang menguap sebelum menyentuh tanah saat disiramkan dari udara, racikan tepung ubi pemadam karhutla ini memiliki mekanisme pemadaman yang jauh lebih presisi:

  1. Memutus Segitiga Api: Zat cair atau serbuk pemadam berbasis pati ubi ini bekerja dengan cara melapisi titik bakar. Penyemprotan zat ini mengisolasi dan memisahkan tiga unsur utama pembentuk api, Oksigen (O2), bahan bakar (kayu/semak), dan energi panas.
  2. Penghentian Reaksi Kimia & Isolasi Gambut: Pada kebakaran lahan gambut yang berada di bawah permukaan tanah, air biasa sering kali gagal meresap secara merata. Formulasi pati umbi ini mampu mengikat kelembapan dan menutupi pori-pori gambut sehingga rantai reaksi pembakaran terhenti seketika.
  3. Solusi Efektif Alternatif Water Bombing: Metode penyebaran skenario udara yang dijuluki ubi bombing menjadi opsi strategis. Bobot dan karakteristik zat kimia ini membuatnya mampu menembus hembusan angin kuat dan mengendap tepat di pusat titik api (hotspot).

​Patologi Literasi Digital & Ruang Inovasi Lokal

​Fenomena latah ubi bombing ini kembali menegaskan kritik lama mengenai budaya literasi digital masyarakat kita yang masih rendah.

Algoritma media sosial dan format video pendek telah mengikis ketahanan fokus (attention span) pembaca. Akibatnya, publik merasa cukup hanya dengan membaca 5–7 kata di judul berita, lalu langsung meluncur ke kolom komentar untuk melemparkan sinisme.

​Kritis kepada kebijakan pemerintah atau figur politik adalah hal yang sah dan dilindungi undang-undang.

Namun, ketika kebencian politik membuat masyarakat sengaja menutup mata dari fakta sains dan menyamakan penemuan ilmiah dengan lelucon tepung terigu, yang dirugikan adalah bangsa kita sendiri.

​Membangun narasi cemoohan terhadap inovasi ubi bombing sama saja dengan mematikan ruang kreatif bagi para inovator akar rumput.

Jika setiap karya dan eksperimen dari daerah langsung dihakimi dan dijadikan bahan olok-olok sebelum sempat diuji di laboratorium secara profesional, maka tidak akan ada lagi anak bangsa dari daerah yang berani berinovasi menciptakan solusi bagi negeri ini.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

πŸ“œ LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET
⚠️

Menyalin sukses!
Gunakan artikel ini dengan bijak & sertakan sumbernya, ya! πŸ˜‰