Gerakan BEM UI Salemba Berseru Untuk Siapa?
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)
Panggung seni di pelataran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Salemba kembali membara. Pada pertengahan Juli 2026, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi simbolik bertajuk Salemba Berseru: Seni Lawan Tirani.
Aksi yang menggandeng musisi seperti Efek Rumah Kaca dan Fajar Merah ini lahir sebagai respons atas kemunduran sistemik: kebangkrutan ekonomi, matinya demokrasi, hingga kegelisahan masal terhadap arah kebijakan pemerintah saat ini.
Namun, di tengah riuhnya yel-yel perlawanan, sebuah pertanyaan mendasar muncul ke permukaan: Gerakan BEM UI Salemba Berseru untuk siapa sebenarnya? Untuk membedahnya, kita harus menanggalkan kacamata hukum formal yang kaku dan menggunakan analisis sosio-legal berbasis realitas kelas bawah.
Pernyataan Fathimah Azzahra: Menjaga Nalar Kritis
Dalam aksi tersebut, Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra menegaskan bahwa Salemba Berseru bertujuan untuk menjaga ruang dialog kritis dan memperkuat solidaritas masyarakat luas. Mahasiswa menolak menjadi menara gading yang apatis di tengah carut-marut kebijakan.
Gerakan ini diposisikan sebagai penyambung lidah rakyat dan penjaga nalar publik ketika institusi formal dianggap mulai kehilangan fungsinya. Melalui mimbar akademik dan panggung seni, BEM UI berusaha mengingatkan bahwa kampus memiliki tanggung jawab moral sebagai kompas bangsa saat negara berada di ambang krisis. Diam di tengah tirani, bagi mereka, adalah bagian dari masalah itu sendiri.
Kenapa Salemba Berseru: Katup Penyelamat & Paradoks Kontrol
Kenapa gerakan ini meledak di jalanan? Jawabannya ada pada rapuhnya kesejahteraan struktural masyarakat. Indonesia berada dalam kondisi unik: negara belum mampu membuat rakyatnya sejahtera secara finansial.
Biaya pendidikan meroket, kesehatan mahal, dan UMR kelas pekerja jauh dari kata layak. Ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi, ruang digital dan mimbar bebas kampus bertindak sebagai katup penyelamat dari tekanan sosial. Di sinilah kaum tertindas mengekspresikan kekecewaan mereka lewat meme, lagu, dan tulisan kritis.
Di sinilah dua teori klasik tentang kontrol massa bertabrakan. Teori pertama berkata jika rakyat terlalu kenyang, sehat, dan pintar, posisi negara melemah karena kesadaran kritis akan melahirkan pemberontakan.
Sebaliknya, teori kedua membuktikan jika kebutuhan dasar rakyat dipenuhi secara gratis, mereka akan diam dan penurut seperti sapi yang ditarik talinya. Di mata sistem global, negara kerap memandang warganya tak lebih dari sekadar peliharaan semata—mau dibikin pintar dalam sangkar emas atau dibikin kenyang agar diam, esensinya tetap kontrol total.
Namun di Indonesia, pemerintah ingin menerapkan pembungkaman digital ala negara maju (seperti pasal karet UU ITE), tetapi belum mampu memberikan "kemakmuran sangkar emas". Akibatnya, ketika perut rakyat lapar dan ruang bicaranya disumbat, hukum siber seketat apa pun tidak akan mampu menahan ledakan kemarahan di dunia nyata.
Untuk Siapa Salemba Berseru: Kritik Dua Arah
Lantas, untuk siapa gerakan salemba berseru ini? Secara narasi, ia berseru untuk masyarakat kelas bawah yang tertindas. Sebab, kalangan elit, pejabat publik, dan kelompok oligarki terlalu sibuk memanen kekayaan sehingga tidak punya waktu—dan kepentingan—untuk bersuara kritis.
Namun, mari kita jujur. Sejalan dengan teori bahwa rakyat yang pintar akan berisik menggonggong pemerintah, mahasiswa mencoba mengambil peran sebagai pencerdas melalui teater kritik Salemba Berseru. Tapi ada paradoks menggelitik: mahasiswa kita jauh lebih patriotik ketika berbicara mengenai sistem pemerintahan yang korup, daripada mencerdaskan bangsa dengan ilmu pengetahuan umum yang aplikatif.
Kita lihat saja realitas di lapangan. Ketika mahasiswa turun ke masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), apakah mereka mengajarkan teori pertanian modern, dasar hukum praktis, atau ilmu bisnis digital? Kebanyakan justru hanya berakhir menjadi panitia lomba Agustusan semata.
Mahasiswa jauh lebih tertarik menyadarkan masyarakat akan bobroknya pemerintahan, daripada mengedukasi penerapan sanitasi yang higienis atau cara membangun UMKM. Ada gap besar antara menara gading retorika politik dengan realitas edukasi di akar rumput.
Algoritma media sosial dan kerumunan di Salemba sangat menyukai keramaian, dan keramaian adalah musuh utama dari stabilitas semu elit politik. Selama negara lebih memilih terlihat indah di luar dan alergi terhadap kenyataan pahit di bawah, maka selama itu pula gerakan mahasiswa—dengan segala catatan romantisme dan kelucuan program KKN-nya—akan terus hadir sebagai benteng terakhir nalar publik.

Komentar
Posting Komentar