Retorika Gema Goeyardi Saat Disentil Warganet, Ajak Open War
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Saat seorang politisi, akademisi, atau pengamat berani mengetuk pintu media sosial untuk menggaet opini dan simpati publik terutama mengenai pernyataannya yang terkesan menyanjung Presiden Prabowo Subianto seperti akun @gemathebillionaire panggung pengujian narasi akan terasa sangat berat.
Bahkan untuk sekelas Asisten Profesor sekalipun, sampai-sampai harus menantang pengkritiknya untuk bertemu secara langsung (open war).
Balasan komentar di Threads dengan nada emosi yang meledak-ledak bukannya menghentikan eskalasi penelusuran jejak digital.
Langkah defensif tersebut justru membuat netizen semakin heran: bagaimana bisa figur bergelar Profesor menanggapi kritik ideologis dan politis dengan luapan emosi mentah serta tantangan duel fisik atau duel debat di podcast?
1. Siapa Sebenarnya Gema Goeyardi?
Bagi publik industri finansial dan penerbangan, sosok Gema Goeyardi bukanlah nama asing. Memiliki akun utama @gemathebillionaire, ia adalah Pendiri sekaligus CEO dari Astronacci International sebuah perusahaan riset pasar modal yang terkenal dengan analisis berbasis astrologi finansial dan angka Fibonacci.
Di luar dunia pasar modal, Gema membangun persona yang terbilang megah di ruang publik. Ia memegang lisensi pilot profesional (FAA ATP), gelar Doktor Ilmu Manajemen, serta jabatan akademis formal sebagai Asisten Profesor (Asst. Prof) di Universitas Narotama.
Pencantuman deretan panjang gelar akademis dan sertifikasi internasional di setiap bio media sosialnya seolah dirancang untuk menegaskan otoritas keilmuan yang tidak boleh diragukan.
2. Apa Peran dan Duduk Perkara Konfliknya?
Muara dari perselisihan ini berawal ketika Gema secara terbuka melontarkan puji-pujian setinggi langit kepada Presiden Prabowo Subianto, bahkan membandingkan kedaulatan serta keberanian Prabowo yang dinilainya melebihi tokoh-tokoh besar lainnya.
Latar belakang pekerjaannya sebagai mantan Penasihat Senior di lingkungan Kantor Staf Presiden (KSP) periode 2022–2024 langsung terendus oleh warganet, bahkan profil linkedIn masih berstatus KSP.
Akun kritis seperti @zizekian.malang menyentil bahwa narasi sanjungan tersebut bukan murni pandangan akademis independen, melainkan bentuk pemenuhan peran atau sekadar Key Performance Indicator (KPI) sebagai pemandu sorak istana.
Sentilan atas independensi dan integritas intelektual inilah yang membakar panggung percakapan di Threads.
3. Dari Ranah Gagasan ke Ajak Open War Ketemuan
Disentil soal independensi dan status jabatannya, respons Gema Goeyardi bukannya menjawab substansi dengan argumen data atau menanggapi dengan santai, melainkan langsung meloncat ke ajakan konfrontasi fisik (open war). Ia melontarkan kalimat:
Anda maunya apa? Saya tggu hadapi saya kt jumpa yuk. Berani? Saya tunggu. Jgn cuma bicara di sini ayo gentleman.
Tindakan menggeser debat publik dari ranah gagasan menuju ajakan ketemuan/ribut adalah bentuk kekeliruan berpikir (logical fallacy) jenis argumentum ad baculum gaya berargumen yang mengandalkan gertakan atau gertakan fisik ketika logika dan analisis akademisnya buntu.
4. Blunder Fatal: Kritik Dikira Benci Negara (L'Γtat, c'est moi)
Puncak dari blunder retorika ini terjadi ketika Gema secara sepihak menyamakan kritik atas puji-pujian politiknya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap bangsa. Dengan nada emosional, ia menuliskan komentar:
Anda ini kok kayaknya benci banget sama Negara yah? Kalau iya, berarti anda musuh Indonesia. You have a war with me. NKRI harga mati.
Secara sosiologi hukum dan komunikasi politik, pernyataan ini merupakan blunder logis yang sangat fatal Strawman Fallacy.
Personifikasi diri seolah-olah tindakannya merepresentasikan kedaulatan negara L'Γtat, c'est moi memperlihatkan kerancuan berpikir yang mendasar.
Mengkritik seorang figur publik, pejabat, atau sikap politik seseorang sama sekali tidak sama dengan membenci negara.
5. Hilangnya Tempereamen Akademis di Kolam Renang Sosmed
Media sosial adalah arena yang sangat egaliter. Begitu seorang akademisi bergelar doktor atau asisten profesor memutuskan bertarung di ruang publik digital, warganet tidak akan silau oleh berderetnya gelar di biografi. Otoritas keilmuan hanya diuji dari sejauh mana kepalanya tetap dingin dan argumennya tetap rasional.
Ketika respon yang diberikan justru berupa tuduhan musuh negara, ajakan duel fisik, dan luapan emosi mentah, wibawa akademis yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam hitungan jam.
Bukannya meredam eskalasi, sikap defensif ini justru mengundang gelombang sindiran publik digital yang kian luas.


Komentar