Teori Realistis Kenapa MBG Bikin Harga Ayam & Pangan Naik
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)
Di kertas kalkulasi para pengambil kebijakan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah narasi idealis tentang investasi gizi generasi mendatang dengan menumbuhkan ekonomi kecil. Namun, ketika gagasan indah di atas kertas itu diturunkan ke realitas pasar yang keras, timbul gejolak harga yang tidak terelakkan. Daging ayam, telur, hingga bahan pokok mendadak melonjak, memicu kepusingan bagi pedagang kecil dan emak-emak.
Kenapa ini bisa terjadi? Bukankah teori matematisnya benar, jika permintaan pasar naik maka ekonomi juga naik, bahan pokok seperti ayam, beras, minyak dan kebutuhan dasar lainnya terbeli yang akan membuat perputaran ekonomi di masyarakat.
Namun teori ekonomi-hukum berkata lain, jika permintaan tinggi tanpa diimbangi dengan pasokan yang seimbang maka yang terjadi inflasi harga, pemerintah membuat program hanyaa fokus pada akibat harga barang terjual, mereka beli dengan tunai, namun mengabaikan sebab apakah peternak ayam atau hewani dan petani mampu dan siap memenuhi permintaan yang besar.
Tampa membuat kebijakan pengimbang misal buat kemitraan kusus peternaak dan petani yang khusus menerima permintaan MBG maka yang terjadi perebutan dan perang harga dapur SPPG, UMKM dan Rumah tangga.
Mengapa teori manis pembuat kebijakan sering kali membentur tembok realitas lapangan? Ini penjelasan realistisnya.
Kegagalan Asumsi Pasar: Demand Shock vs Pasokan Biologis
Pengambil kebijakan sering kali berasumsi bahwa pasar bisa merespons permintaan secara instan (elastic supply). Padahal, industri perayaman, peternakan dan pertanian terikat pada hukum biologi, bukan cuma hukum matematika.
Dapur umum MBG membutuhkan puluhan ton ayam secara serentak. Namun, peternak butuh waktu minimal 30–35 hari untuk membesarkan ayam dari bibit (DOC) hingga siap panen. Ketika permintaan mendadak melonjak dalam hitungan hari tanpa kesiapan masa panen, teori keseimbangan pasar yang ideal runtuh. Hasilnya adalah demand shock: penyedia MBG dan pedagang pasar tradisional berebut pasokan yang jumlahnya sama, membuat harga melesat tajam.
Kebijakan pemerintah biasanya malah membeli barang import yang instan untuk memenuhi kebutuhan pasar tanpa mau membenahi dan mensuport para peternak dan petani dalam negeri, ini penting untuk kesiapan pangan.
Anatomi Efek Kanibalisasi Antara Negara dan UMKM
Dalam ekonomi realistis, perputaran uang yang masif dari anggaran negara tidak selalu berarti kesejahteraan bagi semua orang. Ketika anggaran MBG yang jumbo masuk ke rantai pasok pangan, terjadi persaingan tidak imbang antara dua pihak:
- Pengadaan Dapur MBG: Memiliki kepastian anggaran negara dan berani membeli stok dalam partai besar (bulk purchase).
- Pedagang & UMKM Kuliner: Bergantung pada margin harian yang sangat tipis dan daya beli konsumen pasar tradisional.
- Konsumsi Rumah Tangga: Pembeli kiloan ayam untuk konsumsi harian pribadi menjadi lebih mahal karena efek perebutan harga oleh pedabang.
Akibatnya terjadi kanibalisasi ekonomi. Stok bahan pangan tersedot ke rantai pengadaan negara, sementara UMKM kuliner—seperti warung makan hingga pedagang ayam geprek—terdesak dan terpaksa menaikkan harga porsi atau mengorbankan margin hingga terancam gulung tikar.
Mengapa Perputaran Uang Masif Justru Memicu Inflasi?
Sebagian pengamat mengklaim perputaran uang puluhan triliun dari MBG akan mendongkrak ekonomi. Teori ini tidak salah, tapi tidak lengkap. Uang masif yang berputar hanya akan menjadi pertumbuhan ekonomi nyata jika sektor hulu (supply) sanggup mencetak barang baru dalam jumlah sepadan.
Jika kapasitas produksi peternak lokal stagnan, uang triliunan rupiah yang digelontorkan justru tidak menciptakan barang baru. Uang tersebut hanya menjadi alat untuk saling sikut merebut barang yang jumlahnya terbatas. Inilah definisi paling jujur dari inflasi: terlalu banyak uang mengejar terlalu sedikit barang.
Menjawab Narasi Logika Sesat Menyalahkan MBG Kenaikan Harga
MBG hadir sebagai kaca pembesar yang menelanjangi rapuhnya rantai pasok pangan nasional. Tanpa adanya pembenahan serius pada biaya pakan (jagung/kedelai), ketersediaan bibit, dan proteksi bagi peternak lokal, program sebesar apa pun di sisi hilir—termasuk MBG—hanya akan membuat pasar domestik kelimpungan menerjang lonjakan permintaan harian.
Solusi Realistis: Jangan Paksa Pasar Regulasi Diterjang Tanpa Buffer Stock
Pemerintah tidak bisa terus berdalih bahwa kenaikan ini adalah penyesuaian wajar pasar. Jika MBG ingin berjalan tanpa mengorbankan daya beli rakyat biasa, ada beberapa langkah teknis yang harus dieksekusi:
- Pemisahan Jalur Pasokan (Dedicated Supply Chain): Dapur MBG harus mengambil pasokan langsung dari kemitraan peternak khusus, bukan memborong dari distributor yang melayani pasar tradisional.
- Subsidi Hulu pada Pakan dan Bibit: Tekan biaya produksi peternak di tingkat hulu agar pasokan nasional bisa bertambah secara nyata, bukan sekadar harganya yang melambung.
- Peta Jalan Ketersediaan Sebelum Program Diperluas: Hitung kapasitas panen riil bulanan di tiap daerah sebelum menambah kuota porsi MBG secara agresif.

Komentar
Posting Komentar