​Viral Jurusan Kuliah Disesali, Apakah Hukum Termasuk?

Ilustrasi AI daftar kuliah yang disesali menurut riset terbaru. By Sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

​Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

​Isu pendidikan tinggi kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Berdasarkan rilis survei global terbaru mengenai tingkat kepuasan alumni perguruan tinggi, terkuak fakta mengejutkan: mayoritas lulusan dari berbagai program studi mengaku menyesal telah memilih jurusan kuliah mereka.

Para lulusan baru cenderung kuliah dengan mengambil jurusan yang di anggap keren dan sesuai pasion, kebanyakan terlena dengan iming-iming kerja yang muncul di balik brosur pendaftaran kuliah, namun realitanya tidak demikian untuk itulah mereka mengatakan menyesal memilih jurusan yang salah.

​Ketidaksesuaian antara kurikulum kampus dengan realita lapangan kerja, gaji yang tidak sepadan dengan biaya kuliah, hingga ancaman disrupsi Artificial Intelligence (AI) menjadi alasan utama di balik penyesalan tersebut.

​Namun, di tengah gelombang kekecewaan sarjana baru ini, ada satu pertanyaan menarik: Jurusan apa saja yang paling banyak disesali, dan kenapa Jurusan Hukum tampak relatif aman dari daftar tersebut?

​Daftar Jurusan Kuliah yang Paling Disesali Lulusannya

​Berdasarkan data riset pasar kerja dan laporan ZipRecruiter, berikut adalah deretan jurusan dengan persentase penyesalan (regret rate) tertinggi dari para alumninya:

  1. Jurnalisme / Media (87%): Tekanan kerja tinggi, minimnya kepastian karir, dan pergeseran industri media konvensional ke digital menjadi pemicu utama.
  2. Sosiologi & Ilmu Sosial (72%): Lapangan pekerjaan yang terlalu umum dan minimnya posisi spesifik di dunia industri.
  3. Seni Fine Arts (72%): Ketidakpastian finansial dan tingginya persaingan di pasar kerja kreatif.
  4. Ilmu Komunikasi (64%): Anggapan bahwa keahlian komunikasi bisa dipelajari secara otodidak tanpa harus bergelar sarjana.
  5. Pendidikan / Keguruan (61%): Kesejahteraan guru/tenaga pendidik yang masih minim di berbagai daerah.
  6. Manajemen Pemasaran & Riset (60%): Perubahan algoritma digital yang begitu cepat membuat teori perkuliahan sering kali kedaluwarsa saat lulus.
  7. Ilmu Politik & Pemerintahan (56%): Akses ke karier politik yang cenderung oligarkis dan terbatas.
  8. Sastra & Bahasa Asing (52%): Tergeser secara masif oleh hadirnya alat penerjemah berbasis AI dan teknologi bahasa.

​Kenapa Jurusan kuliah Hukum Tidak Masuk Daftar Paling Disesali?

​Di saat jurusan-jurusan kuliah humaniora dan ilmu sosial lainnya menduduki peringkat atas dalam daftar penyesalan, Fakultas Hukum (FH) justru menunjukkan tingkat ketahanan (resilience) yang sangat tinggi.

​Ada beberapa alasan mendasar mengapa para Sarjana Hukum (S.H.) cenderung tidak menyesali pilihan studinya:

​1. Monopoli Profesi dan Perlindungan Regulasi

​Jurusan Hukum memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh mayoritas jurusan ilmu sosial lain: Monopoli Profesi Resmi. Untuk menjadi Hakim, Jaksa, Advokat, Notaris, atau Legal Corporate, negara mewajibkan syarat mutlak berlatar belakang pendidikan Sarjana Hukum. Industri tidak bisa sembarangan merekrut lulusan dari jurusan lain untuk mengisi posisi legal formal ini.

​2. Fleksibilitas Karir yang Sangat Luas (Versatility)

​Jika seorang Sarjana Hukum memilih untuk tidak menjadi praktisi medis/litigasi, ilmunya tetap sangat dibutuhkan di hampir seluruh sektor:

  • Sektor Bisnis & Startup: Membutuhkan Legal Officer untuk draf kontrak dan kepatuhan (compliance).
  • Sektor Pemerintahan & BUMN: Membutuhkan analis kebijakan dan perancang peraturan perundang-undangan.
  • Sektor LSM & NGO: Membutuhkan aktivis HAM dan pendamping Bantuan Hukum.

​3. Ketahanan Terhadap Disrupsi AI

​Meskipun AI bisa membuat draf kontrak sederhana atau mencari pasal UU dalam hitungan detik, AI tidak bisa menggantikan penalaran hukum (legal reasoning), seni berargumentasi di persidangan, negosiasi sengketa, dan pertimbangan etika moral yang dimiliki oleh manusia.

​Tantangan Nyata Sarjana Hukum di Era Modern

​Meski tidak masuk daftar jurusan yang paling disesali, bukan berarti jalan bagi Sarjana Hukum mulus tanpa hambatan. Tantangan bagi lulusan hukum era sekarang tetap ada:

  • Saturasi Lulusan: Puluhan ribu Sarjana Hukum dicetak setiap tahunnya dari ratusan kampus di Indonesia, menciptakan persaingan ketat di kota-kota besar.
  • Perluasan Keterampilan Digital: Sarjana Hukum tidak lagi cukup hanya menghafal pasal, tapi wajib memahami Cyber Law, Hukum Data Pribadi, hingga regulasi Fintech dan AI.

​Kesimpulan

​Penyesalan dalam memilih jurusan kuliah umumnya berakar dari ketidakpastian jalur karier dan rendahnya daya tawar di dunia kerja. Jurusan Hukum berhasil terhindar dari stigma ini karena memiliki benteng regulasi profesi yang kuat dan kebutuhan ilmu hukum yang tidak pernah mati selama suatu negara berdiri di atas hukum (rule of law).

​Bagi calon mahasiswa atau mahasiswa aktif Hukum, kunci utamanya adalah tidak sekadar menjadi pemegang ijazah S.H., melainkan terus mengasah analytical thinking dan adaptasi teknologi agar tetap menjadi aset bernilai tinggi di masa depan!

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

πŸ“œ LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET

Komentar