Kenapa Nakes Mudah Marah dan Suka Menghujat Pasien BPJS?
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Founder KunciPro Research | Peneliti Sosio-Legal terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)
Ada satu doktrin tidak resmi tapi nyata dipakai masyarakat saat berselancar di media sosial, jauhi atau hindari postingan dan komentar yang menyenggol tenaga kesehatan (nakes). Golongan ini dikenal sangat emosional, mudah marah, suka menghujat dan akan bergerak secara berkelompok ketika menghujat serta menghina seseorang di ruang digital.
Fenomena ini bukan sekadar isapan jempol. Publik sudah berulang kali disuguhkan pemandangan di mana seorang pasien atau warga biasa yang sekadar menyuarakan keluhan pelayanan kesehatan justru diserbu, dirundung, hingga dihakimi secara masif oleh rombongan akun beridentitas medis.
Muncul pertanyaan besar di tengah masyarakat: Kenapa nakes mudah marah, suka menghujat, dan terkesan memiliki harga diri yang sangat tinggi? Mengapa profesi yang bersumpah atas nama kemanusiaan ini bisa bertransformasi menjadi sosok yang begitu galak dan nir-empati di ruang publik?
Secara psikologis, sosiologis, dan sistemik, ada beberapa alasan utama di balik fenomena ini.
1. Privilege Sekolah Mahal: Buta Realitas dan Tak Pernah Antre BPJS
Untuk mendapatkan status sebagai tenaga kesehatan baik dokter, bidan, maupun perawat dibutuhkan perjuangan yang amat panjang, menguras energi, dan sangat bergengsi di mata masyarakat. Namun, ada satu realitas keras yang tak bisa ditampik: biaya pendidikan kedokteran dan spesialis di Indonesia itu luar biasa mahal.
Akibatnya, mayoritas orang yang bisa menembus dinasti pendidikan medis adalah mereka yang berasal dari keluarga berada atau kelas menengah ke atas. Karena tumbuh dalam lingkaran privilege, sejak kecil hingga dewasa mereka tidak pernah merasakan perihnya berobat dan mengantre berjam-jam menggunakan BPJS Kesehatan.
Ketiadaan pengalaman hidup sebagai rakyat kecil inilah yang membuat sebagian oknum nakes nir-empati dan menganggap keluhan pasien BPJS sebagai bentuk manja atau banyak komplain.
2. Beasiswa LPDP: Dibiayai Pajak Rakyat, Tapi Malah Menghina Rakyat
Ironi terbesar terjadi ketika anak-anak muda cerdas dan ber- privilege ini berburu Beasiswa LPDP, program beasiswa nasional yang dikelola negara. Dana abadi pendidikan ini dihimpun dari uang pajak seluruh rakyat Indonesia, mulai dari konglomerat hingga rakyat kecil yang membeli barang pokok harian.
Secara moral dan etika, penerima beasiswa LPDP (Awardee) yang menempuh pendidikan dokter atau spesialis memiliki utang budi besar untuk mengabdi kembali kepada rakyat bukan.
Sungguh sangat tidak beradab ketika seorang oknum nakes yang sekolahnya dibiayai dari keringat dan pajak rakyat, justru menggunakan privilege gelar dan beasiswanya untuk menghina, mengejek, dan merendahkan status sosial pasien BPJS di media sosial seperti @erudarahaadini.
3. Sindrom Wakil Tuhan dan Harga Diri di Atas Langit
Panjangnya proses perjuangan untuk meraih gelar profesi medis sering kali melahirkan sindrom psikologis berbahaya: merasa diri sebagai Wakil Tuhan di bumi yang memegang kendali penuh untuk menunda kematian atau menyembuhkan penyakit seseorang.
Pola pikir Gue yang pegang resep dan nyawa lu, jadi jangan macam-macam ini menciptakan harga diri (pride) yang melambung tinggi. Akibatnya, ketika ada pasien awam yang bertindak kritis atau mengeluh di media sosial, oknum nakes dengan ego Wakil Tuhan ini akan menganggapnya sebagai bentuk pembangkangan.
Padahal, dalam dunia medis, waktu adalah nyawa. Telat penanganan 8 jam saja, pasien bisa langsung berpindah alam, sebagaimana tragedi memilukan yang menimpa almarhum @yurizaltrich. Sangat miris ketika pasien yang berjuang menahan sakit di IGD justru disuruh diam oleh oknum yang merasa jemarinya lebih berhak menghujat daripada menyelamatkan nyawa.
4. Gang Mentality: Ketika Satu Disenggol, Rombongan Nyerbu
Alasan utama mengapa doktrin jangan nyenggol nakes itu ada adalah hadirnya gang mentality atau solidaritas buta di media sosial. Ketika satu oknum nakes dikritik atau merasa tersinggung, mereka tidak menyelesaikannya secara personal atau introspeksi, melainkan menggalang kekuatan kelompok.
Tautan postingan kritis akan disebar ke grup-grup internal sejawat atau alumni untuk dimobilisasi massanya. Rombongan akun ber-bio tenaga medis akan merapat ke kolom komentar untuk melakukan pengeroyokan narasi (cyberbullying), doxxing halus, hingga melontarkan ejekan bernada classism.
Semua ini dilakukan demi membungkam suara kritis pasien agar tidak ada lagi yang berani menyentuh kesucian profesi mereka.
5. Structural Stigma Terhadap Pasien BPJS & Efek Begadang
Dalam ekosistem medis yang kompleks, keterlambatan pencairan klaim BPJS dan beban jam kerja jaga malam hingga 24 jam kerap memicu burnout dan deprivasi tidur kronis. Sayangnya, rasa frustrasi terhadap sistem administrasi RS dan efek fisik kurang tidur ini sering kali disalaharahkan (displaced aggression) kepada pasien. Timbul stigma bahwa pasien BPJS adalah beban yang tidak boleh banyak menuntut.
Emosi harus dilepaskan agar tidak menjadi penyakit, melampiaskan didunia nyata rawan pidana karena ada gesekan fisik. Untuk itu dirasa aman melampiaskan di ruang digital karena anonimitas.
Kesimpulan: Kembalikan Hakikat Pengabdian Medis
Doktrin masyarakat untuk takut pada nakes di media sosial adalah tamparan keras bagi dunia medis Indonesia. Gelar akademis bergengsi dan kucuran beasiswa mahal dari negara tidak ada artinya jika rasa kemanusiaan telah mati di dalam dada.
Para nakes harus ingat bahwa profesi medis adalah tentang pelayanan dan pengabdian, bukan ajang pamer superioritas kelas. Pemerintah, LPDP, dan organisasi profesi medis wajib menindak tegas oknum yang membanggakan gelar dan beasiswanya sembari merendahkan rakyat kecil. Sebab pada akhirnya, pasien yang datang ke rumah sakit butuh kesembuhan dan penanganan yang manusiawi, bukan caci maki.

Komentar
Posting Komentar