Bedah Sumber Referensi Risky Aprianto Soal Yenny Wahid dan Prabowo

Klarifikasi Risky Aprianto catut nama Yeny Wahid dan Prabowo cuma kutip media. By Sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

​Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

​Polemik unggahan akun Threads @rizkyyy.aprianto yang mencatut nama Yenny Wahid dan Presiden Prabowo Subianto memasuki babak baru.

Setelah bantahan singkat satu baris dari Yenny Wahid dikolom komentar seketika mematahkan klaim tersebut, sorotan publik beralih pada dalih pembelaan diri si pemilik akun.

Dalam permohonan maafnya, sosok yang mencantumkan status sebagai peneliti BRIN dan akademisi bidang nanoteknologi tersebut berdalih bahwa ia hanya mengutip media. Ia kemudian menautkan dua alamat web sebagai bukti pembelaan: artikel di platform Kompasiana dan portal indonesiamedia.com.

​Menelisik kedua tautan tersebut secara tekstual mengungkap ironi yang jauh lebih dalam.

Bukannya menyelamatkan kredibilitasnya, pembedahan terhadap 2 teks sumber referensi Risky Aprianto justru membongkar bagaimana seorang periset terlatih bisa dengan mudah dan sadar terjerembap menelan mentah-mentah fosil propaganda politik yang cacat metodologi sejak awal.

​Menggali Fosil Kampanye Hitam Pilpres 2014

​Kelemahan paling mencolok dari rujukan yang diajukan Risky Aprianto adalah variabel waktu dan konteks produksinya.

Kedua artikel yang ia jadikan sandaran argumen bertanggal sama: 26 Mei 2014. Rentang waktu tersebut merupakan puncak masa kampanye Pemilihan Presiden 2014, periode yang dikenal sarat polarisasi dan semburan disinformasi antar-kubu kontestan.

Tidak ada orang yang niat mencari cari celah untuk diangkat kembali, mencari jejak digital sampai 2014 hanya untuk mencari sebuah fiktif bukan fakta.

​Mengutip tulisan berusia lebih dari satu dekade tanpa melakukan verifikasi mutakhir adalah kecerobohan fatal bagi siapa pun yang berkecimpung di dunia akademik apalagi sekelas periset BRIN.

Informasi politik di era digital bergerak sangat cair; kabar angin pemilu yang sempat berseliweran bertahun-tahun lalu bisa dengan mudah diklarifikasi, dibantah, atau bahkan diproses secara hukum di kemudian hari.

Mengambil tulisan lama dari masa kontestasi politik lampau lalu menyajikannya kembali di linimasa media sosial sebagai fakta sejarah menunjukkan ketidakmampuan melakukan kontekstualisasi data.

​Teks Sumber Sendiri Mengakui: Dasarnya Hanya Tebak-tebakan Twitter

​Jika dibaca secara teliti dari kedua artikel rujukan tersebut sama sekali tidak memuat laporan investigasi, berita langsung, maupun pernyataan resmi dari para saksi kunci.

Sumber aslinya hanya mendaur ulang kicauan samar di platform Twitter (sekarang X) yang ditulis oleh Irfan Asyari Sudirman (Gus Ipang Wahid).

​Fakta paling mencengangkan terletak pada kalimat pengakuan yang tertulis jelas di badan artikel indonesiamedia.com maupun Kompasiana:

Para pengikut Gus Ipang di Twitter pun menebak. Mereka kebanyakan menduga capres yang dimaksud adalah Prabowo Subianto. Sampai tulisan ini ditulis, Gus Ipang tidak memberikan jawaban yang ia tulis di Twitter.

​Artinya, artikel yang dijadikan tameng kebenaran oleh sang peneliti secara eksplisit menyatakan bahwa nama Prabowo Subianto hanyalah hasil tebak-tebakan warganet Twitter, bukan konfirmasi faktual.

Gus Ipang sendiri pada saat itu tidak pernah menyebut nama atau memberikan verifikasi atas dugaan para pengikutnya.

​Bagaimana mungkin seorang peneliti yang terbiasa menguji hipotesis di laboratorium sains bisa menganggap tebakan netizen di kolom komentar sebagai rujukan fakta yang sahih?

Narasi itu bahkan tidak memenuhi syarat paling rendah untuk disebut bukti sekunder, melainkan murni desas-desus tanpa konfirmasi.

​Rujukan Lingkaran Setan (Circular Reporting) dan Opini Bebas

​Kekacauan metodologis rujukan ini makin telanjang saat menilik status penerbitnya:

  1. Bantahan Tanggung Jawab Kompasiana: Artikel karya akun Mariana Sutopo di Kompasiana memuat catatan kaki redaksional baku: Konten ini dibuat oleh pengguna Kompasiana. Seluruh isi menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan resmi redaksi KompasTulisan tersebut murni kanal opini warga (user-generated content) tanpa melewati proses verifikasi redaksi (gatekeeping) standar pers profesional.
  2. Lingkaran Rujukan Tertutup: Sumber yang dicantumkan dalam tulisan Kompasiana tersebut justru saling silang mengutip tautan Kompasiana lain dan situs web partisan non-jurnalistik seperti bersamadakwah.com. Dalam analisis informasi, pola ini disebut circular reporting atau siklus konfirmasi semu, di mana kabar burung saling mengutip satu sama lain hingga tampak meyakinkan di permukaan.
  3. Pemberitaan Kontradiktif di Era Tersebut: Di kolom komentar situs indonesiamedia.com, jejak digital mencatat bahwa pada Juli 2014 narasi serupa sempat diputarbalikkan di media sosial untuk menyerang kubu Joko Widodo. Hal ini membuktikan bahwa teks yang dijadikan rujukan oleh Risky hanyalah amunisi perang psikologis pemilu yang teksnya dimodifikasi sesuai kepentingan penyebarnya saat itu.

​Pelajaran Metodologi: Riset Laboratorium vs Literasi Digital

​Tragedi literasi ini menjadi cerminan kontras. Di satu sisi, Riski Aprianto memamerkan portofolio riset nanoteknologi, penguasaan sains eksakta, serta capaian beasiswa negara.

Namun di sisi lain, saat beralih ke layar media sosial, seluruh prinsip kehati-hatian ilmiah, verifikasi sumber primer, dan pengujian silang (cross-check) seolah lenyap seketika.

​Pembelaan saya hanya mengutip media gugur dengan sendirinya ketika teks media yang dikutip secara terbuka menyatakan bahwa isi narasinya sekadar dugaan liar tanpa kepastian.

Mengutip kabar burung dari artikel blog opini tahun 2014 bukanlah bentuk riset literatur, melainkan kelalaian intelektual yang merusak nama baik pihak lain sekaligus mencoreng reputasi integritas periset muda di ruang publik.

Sebagai lembaga yang menaunginya BRIN harus segera mengevaluasi, bukan menambah cerdas bangsa justru bisa memecahbelah dengan berita basi.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

πŸ“œ LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET

Komentar

Berbagai kasus viral yang sulit untuk dilupakan, jadikan pelajaran hidup. By Sosiolegal

⚖️ Kajian Sektoral & Interdisipliner

8 Rubrik Hukum