Menolak Potong Tangan, Hilang Nyawa: Mengapa Massa Main Hakim Sendiri?

Kenapa maling sering dihukum massa sampai tewas? By Sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

​Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

​Satu demi satu peristiwa penghakiman massa terhadap pelaku pencurian terus menghiasi berita. Pelaku pengeroyokan kerap dicap barbar dan tak beradab. Namun, ada pertanyaan mendasar yang jarang dibahas secara jujur: mengapa rakyat sampai pada titik muak sedemikian hebat hingga tega merenggut nyawa seseorang?

Setelah kejadian maling dimassa sampai tewas virall, tanggapan dari masyarakat pun ada dua kubu, yang mengasihani dan yang menyetujui.

Golongan yang setuju bukan tanpa alasan, mereka berargumen pernah menjadi korban begal, perampokan, maling atau copet.

Disaat uang dan harta benda satu-satunya diambil paksa mereka adalah golongan yang paling membenci pencurian.

​Itulah kenapa massa muak dan gelap mata sampai tega menghabisi nyawa seseorang hang diduga maling. Ini adalah dampak dari diabaikannya hukum dan perintah Tuhan, yang digantikan oleh hukum buatan manusia yang tumpul namun sok mengatasnamakan Hak Asasi Manusia (HAM).

​Logika Aneh: Menolak Potong Tangan, Malah Menghilangkan Nyawa

​Di atas kertas, para ahli hukum modern dan pakar HAM menolak sanksi syariat seperti potong tangan bagi pencuri dengan alasan "tidak manusiawi". Mereka merasa lebih cerdas dan lebih berbelas kasih daripada aturan yang telah ditetapkan Sang Pencipta.

​Namun, mari kita cermati konsekuensi di lapangan. Ketika hukum Tuhan yang hanya merenggut satu tangan itu ditolak, pencuri tidak memiliki rasa takut. Mereka bebas keluar-masuk penjara sebagai residivis, kembali mencuri, dan menumpuk kekayaan dari penderitaan rakyat. Akumulasi rasa frustrasi warga yang terus-menerus dizalimi akhirnya meledak menjadi kemarahan massa.

​Hasil akhirnya? Pelaku bukan lagi kehilangan satu tangan, melainkan kehilangan nyawanya di jalanan.

​Para ahli berpikir bisa mengakali hukum Tuhan dengan meniadakan sanksi potong tangan. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: ketidaktegasan hukum membuat masyarakat mengambil alih penegakan secara brutal.

Logika sederhana pun menguji kita: mana yang lebih baik dan lebih manusiawi, kehilangan satu tangan atau kehilangan nyawa? Hukum Tuhan membatasi sanksi secara terukur untuk memberi efek jera tanpa membunuh, sedangkan keangkuhan manusia yang menolak hukum tersebut justru bermuara pada kematian di tangan massa.

​Analogi Manual Book: Tuhan Paling Tahu Ciptaan-Nya

​Untuk memahami mengapa hukum Tuhan adalah yang terbaik, kita bisa melihat analogi sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

​Ketika sebuah pabrik menciptakan sepeda motor, kendaraan tersebut selalu dilengkapi dengan buku panduan (manual book). Di dalamnya tertulis aturan jelas: tidak boleh diangkut melebihi kapasitas, tidak boleh dipukul, tidak boleh terendam air, dan harus dirawat dengan spesifikasi tertentu.

Apakah pabrikan membuat aturan itu karena benci pada sepeda motor buatannya? Tentu tidak. Aturan itu dibuat justru karena pabrikan paling paham bagaimana cara menjaga agar motor tersebut awet, aman, dan berfungsi optimal.

​Namun, manusia sering kali merasa lebih tahu. Buku pedoman dicampakkan, ukuran ban diganti secara ekstrem, dan body dimodifikasi sesuka hati tanpa memperhitungkan keselamatan. Akibatnya jelas: kendaraan cepat rusak dan membahayakan pengendaranya sendiri.

​Begitu pula dengan kehidupan manusia. Tuhan adalah Pencipta alam semesta dan seluruh isinya. Dia adalah pabrikan yang paling tahu karakter, kelemahan, dan kebutuhan hamba-Nya.

Aturan dan hukum yang Diturunkan, termasuk ketegasan sanksi bagi pelaku kejahatan, adalah manual book bagi tatanan sosial agar tetap aman dan seimbang. Ketika manusia mencoba mengakali buku panduan Tuhan dengan hukum buatan sendiri, tatanan masyarakat pun rusak dan melahirkan kekacauan di mana-mana.

​Kehancuran Masyarakat yang Mengabaikan Perintah Tuhan

​Kejadian main hakim sendiri hingga tewas adalah sinyal peringatan yang amat nyata. Masyarakat yang sengaja berpaling dan mengabaikan perintah Tuhan pada akhirnya akan hancur dengan sendirinya dari dalam.

​Ketika hukum buatan manusia memanjakan penjahat atas nama kebebasan yang keliru, rasa aman masyarakat tercabut. Rakyat kecil yang muak tidak lagi percaya pada sistem formal dan memilih bertindak sebagai hakim sekaligus algojo.

Selama kita terus menolak aturan Sang Pencipta dan merasa lebih tahu dari-Nya, fenomena tragis ini tidak akan pernah berhenti. Keadilan tidak akan pernah tercapai dengan mencampakkan petunjuk Tuhan, dan kehancuran sosial akan terus mengintai.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

πŸ“œ LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET

Komentar

SOSIOLEGAL