Pria Asal Batu Mirip Yesus, Strategi S3 Marketing Bang Faiq?

Faiq Muhammad Alkatiri, pedagang kambing Batu viral yang disebut mirip Yesus sedang berada di kandangnya. By Sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

​Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law terindeks global (ORCID ID: 0009-0003-4829-1185)

​Rambut panjang bergelombang dan janggut yang lebat sebenarnya merupakan hal yang sangat normal bagi laki-laki di kawasan Timur Tengah. Namun, cerita akan menjadi sangat berbeda jika fenomena ini terjadi di Batu, Malang Indonesia.

Baru-baru ini, jagat media sosial dihebohkan oleh sosok Faiq Muhammad Alkatiri alias Bang Faiq, seorang pedagang kambing Batu viral yang penampilannya dinilai mirip Yesus.

​Melalui akun Instagram resminya, pria asal Kota Batu, Malang Raya ini mendadak menjadi pusat perhatian publik. Netizen di kolom komentar berbondong-bondong menyamakan wajah dan perawakannya dengan ilustrasi tokoh spiritual Yesus tersebut. Namun, di balik kehebohan ini, muncul pertanyaan besar: Apakah ini murni ketidaksengajaan, atau justru sebuah strategi S3 marketing yang genius?

​Antara Mitos Nabi Isa dan Realitas Visual Yesus

​Menariknya, di media sosial sempat terjadi salah kaprah. Ada sebagian netizen yang menyebut Bang Faiq mirip dengan Nabi Isa AS. Namun, anggapan netizen tersebut sebenarnya tidak berdasar. Dalam tradisi Islam, tidak pernah ada satu pun dokumentasi visual resmi yang menunjukkan bentuk wajah para nabi, termasuk Nabi Isa AS.

Satu-satunya petunjuk hanyalah deskripsi fisik dari hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa Nabi Isa memiliki kulit kemerahan dan rambut yang cenderung ikal atau keriting, bukan lurus bergelombang sebahu.

​Sebaliknya, jika netizen mengatakan pedagang kambing Batu viral ini mirip Yesus, secara visual hal itu terasa masuk akal bagi banyak orang. Ingatan kolektif masyarakat sudah terbiasa melihat proyeksi wajah Yesus lewat lukisan, patung, hingga film-film Hollywood.

Potret dengan rambut cokelat bergelombang dan janggut rapi itulah yang tersebar luas di internet, sehingga ketika melihat sosok Faiq Muhammad Alkatiri, netizen langsung melakukan pencocokan visual secara sekilas.

​Penghinaan Agama atau Hal Lumrah?

​Kemunculan fenomena pria mirip Yesus di kandang kambing ini tentu memicu diskusi hangat. Apakah menyamakan seorang penjual hewan kurban dengan sosok yang disakralkan merupakan bentuk penghinaan agama, ataukah ini hanyalah hal lumrah di era digital?

​Jika dilihat dari sudut pandang sosiologi media sosial, fenomena ini tampaknya lebih condong ke arah hal lumrah akibat efek psikologis masyarakat yang latah. Sebagian besar netizen tidak berniat melakukan penistaan, melainkan hanya mengekspresikan rasa takjub mereka secara spontan. Terlebih lagi, respons yang muncul di kolom komentar mayoritas bernada positif karena mengagumi pembawaan sang pria yang dinilai santun saat berbicara.

​Strategi S3 Marketing yang Genius atau Sekadar Keberuntungan?

​Satu hal yang paling mencengangkan dari fenomena Faiq Muhammad Alkatiri adalah kecepatan transformasinya. Pemilik akun Instagram @bangfaiq_batu ini berhasil viral hanya dalam waktu semalam. Dari akun baru yang awalnya memiliki 0 follower, angkanya langsung melesat tajam menjadi puluhan ribu pengikut hanya berbekal satu video sederhana di kandang kambing.

​Melihat anomali ini, wajar jika publik mencurigai adanya strategi S3 marketing yang matang untuk menggaet massa. Di industri digital saat ini, membuat konsep konten yang memicu "efek kejut visual" adalah formula paling cepat untuk menembus algoritma.

Dengan memanfaatkan penampilannya yang khas dan memadukannya dengan latar belakang kandang kambing, sang pembuat konten tampaknya tahu betul bahwa video ini akan memicu engagement tinggi. Tujuannya sangat jelas: menarik massa dalam waktu singkat demi membangun personal branding dan mendongkrak bisnis penjualan kambingnya.

​Klarifikasi Faiq Muhammad Alkatiri

​Meskipun teori tentang strategi S3 marketing bergulir liar, Bang Faiq sendiri akhirnya membuka suara. Melalui klarifikasinya, pedagang kambing Batu viral ini menegaskan bahwa gaya berbusana gamis, memanjangkan rambut, serta memelihara janggut sama sekali tidak berniat untuk meniru visual mirip Yesus atau tokoh mana pun. Penampilan tersebut murni ia lakukan karena terinspirasi untuk mengamalkan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

​Pada akhirnya, entah ini sebuah strategi bisnis yang disengaja atau murni berkah keberuntungan algoritma, sosok Faiq Muhammad Alkatiri telah sukses membuktikan bahwa keunikan visual yang dibenturkan dengan kesederhanaan selalu berhasil menjadi magnet utama bagi netizen Indonesia.

SOSIOLEGAL.COM

Interdisciplinary Law & Kuncipro Research Institute

πŸ“œ LIHAT VISI, MISI & STANDAR ETIKA RISET

Komentar